Berita

Abraham Lunggana/net

Politik

Haji Lulung: Kesaksian Ahok Jangan Dijadikan Pencitraan!

KAMIS, 04 FEBRUARI 2016 | 15:45 WIB | LAPORAN: FEBIYANA

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, Abraham Lunggana mengatakan bahwa kesaksian Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dalam kasus dugaan korupsi pengadaan uninterruptible power supply (UPS) dengan terdakwa Alex Usman dijadikan pencitraan sang Gubernur.

"Kalau kemarin ini (kesaksian Ahok) dijadikan sarana pencitraan oleh Gubernur," ujar pria yang akrab disapa Haji Lulung itu di Pengadilan Tidak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jl. Bungur Raya, Jakarta Pusat, Kamis (4/2).

Oleh sebab itu, politisi partai berlambang Ka'bah itu menghimbau Ahok untuk berkata jujur dalam persidangan.


"Saya harap mereka tak bohong karena ini waktunya sudah harus keluar dari ranah pencitraan," lanjutnya.

Dalam kasus ini awalnya Ahok mengungkap keberadaan puluhan penganggaran yang nilainya masing-masing berada di kisaran Rp 5,8 miliar dalam rincian APBD Perubahan DKI tahun 2014. Diduga keberadaan penganggaran itu terjadi saat kisruh antara Pemerintah Provinsi DKI dan DPRD DKI terkait pengesahan APBD tahun 2015 pada awal tahun lalu.

Keberadaan penganggaran UPS untuk ditempatkan di 49 sekolah dianggap siluman. Pasalnya, keberadaan penganggaran itu tidak tercantum dalam dokumen Kebijakan Umum Anggaran Prioritas - Plafon Anggaran Sementara (KUAPPAS) yang merupakan dasar penyusunan APBD oleh pemerintah dan DPRD.

Bareskrim Mabes Polri selaku lembaga penegak hukum yang melakukan penyidikan sejauh ini telah menetapkan tiga orang tersangka. Yakni, mantan Kepala Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Pusat Zainal Soelaeman, serta mantan anggota Komisi E DPRD DKI periode 2009-2014 M. Firmansyah dan Fahmi Zulfikar Hasibuan.

Sementara, terdakwa yang telah menjalani proses pengadilan adalah Alex Usman. Alex, yang merupakan salah satu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan UPS di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Pendidikan DKI mulai menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta pada 29 Oktober 2015.

Sejumlah pejabat Pemprov DKI pun telah memberi kesaksiannya terkait kasus tersebut. Antara lain Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) atau Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Saefullah dan mantan Kepala Inspektorat yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan DKI Lasro Marbun. Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana yang juga mantan koordinator Komisi E, atau komisi DPRD DKI yang menyetujui dilakukannya penganggaran.

Alex sendiri diadili karena dianggap bertanggungjawab terhadap pengadaan 25 perangkat UPS untuk disimpan di 25 SMA/SMK di wilayah Kotamadya Jakarta Barat.

Alex diperkirakan merugikan keuangan daerah Rp 81,433 miliar.

Oleh karena tindakannya tersebut, Alex dijerat Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara. [mel]

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

UPDATE

Andrie Yunus Binaan Soleman Ponto

Senin, 23 Maret 2026 | 04:10

Yaqut Berpeluang Pengaruhi Saksi saat Jadi Tahanan Rumah

Senin, 23 Maret 2026 | 04:06

Ada Skenario Guncang Prabowo Lewat Dana George Soros

Senin, 23 Maret 2026 | 03:49

Pimpinan KPK Didesak Buka Suara soal Tekanan Politik terkait Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 03:13

Prabowo Telepon Erdogan-MBS saat Idulfitri

Senin, 23 Maret 2026 | 03:05

Yaqut Jadi Tahanan Rumah Benar Secara Aturan, tapi Cederai Rasa Keadilan

Senin, 23 Maret 2026 | 02:18

Kaum Flagelata dan Ekstremisme Religius di Tengah Krisis Abad Pertengahan Eropa

Senin, 23 Maret 2026 | 02:08

Alasan KPK soal Pengalihan Penahanan Yaqut Janggal

Senin, 23 Maret 2026 | 02:00

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Sahroni Kritik Polisi Slow Response Tanggapi Laporan Warga

Senin, 23 Maret 2026 | 01:22

Selengkapnya