Berita

Benny Rhamdani:net

Wawancara

WAWANCARA

Benny Rhamdani: Anak-Anak TK Sudah Dicekoki Paham Radikal Selama Bertahun-Tahun

SENIN, 01 FEBRUARI 2016 | 08:26 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Penyebaran paham radikal tidak hanya melanda anak muda dan orangtua saja. Anak-anak usia dini yang masih belajar di tingkat Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) juga rentan den­gan penyebaran paham kekerasan ini.
 
Hal ini mengacu pada hasil temuan yang dilakukan Gerakan Pemuda Anshor, organ saya dari Ormas Islam PBNU baru-baru ini. Pada sekolah TK dan PAUD yang berada di kawasan Depok, Jawa Barat, GP Anshor menemukan buku yang di dalamnya terdapat banyak kalimat berbau unsur radikalisme.

"Ini menjadi pesan bagi ki­ta, bahwa penyebaran paham radikalisme tidak hanya identik dilakukan pada anak-anak muda dan orangtua saja. Anak-anak usia dini yang masih polos sudah dicekoki dengan paham radikalisme ini," ujar Wakil Ketua Umum GP Anshor Benny Rhamdani saat berbincang den­gan Rakyat Merdeka, kemarin.


Seperti apa isi buku yang diang­gap GP Anshor sangat bermuatan paham radikalisme itu? Berikut wawancara selengkapnya :

Bisa diceritakan gimana awalnya GP Anshor mem­bongkar buku pelajaran untuk anak SD yang diduga berbau unsur radikalisme?
Awalnya kami menerima lapo­ran dari orang tua siswa yang tinggal dikawasan Depok, Jawa Barat. Dalam laporan tersebut, orang tua itu menceritakan bila dirinya bingung saat anaknya bertanya tentang kata-kata yang berhubungan dengan gerakan teroris, seperti 'rela mati bela agama', 'gegana ada di mana', 'bila agama kita dihina kita tiada rela', 'basoka dibawa lari', 'sele­sai raih bantai kiyai', dan 'kenapa fobia pada agama'. Orang tua itu pun lantas bertanya pada anaknya yang masih TK dari mana dapat kata-kata tersebut. Ternyata anak itu pun menunjukan buku pelaja­rannya di sekolah yang berjudu­lAnak Islam Suka Membaca.

Dari situ kami pun melakukan pengecekan terhadap buku yang tersebut. Hasilnya, kami dapat 32 kalimat yang mengarahkan kepada tindakan radikalisme di antaranya 'sabotase', 'gelora hati ke Saudi', 'bom', 'sahid di medan jihad', hingga 'cari lokasi di Kota Bekasi'. Kemudian ada juga kalimat dan kata-kata yang mengandung radikalisme seperti 'rela mati bela agama', 'gegana ada di mana', 'bila agama kita dihina kita tiada rela' dan seba­gainya.

Bukankah bisa saja penulis dari buku tersebut memang tidak memiliki unsur kesen­gajaan apalagi menyebarkan doktrin radikalisme?
Dalam mencari pengikut, banyak cara yang dilakukan teroris pada masyarakat. Nah buku yang ini, kami sebut up­aya menanamkan bibit-bibit radikalisme pada anak usia dini. Banyaknya kalimat-kalimat berbau radikalisme dalam buku tersebut justru menjadi aneh kalau kemudian penulis tidak punya maksud apa-apa.

Apalagi ada 5 jilid buku yang ditemukan. Ironisnya, buku-buku itu sudah dicetak sejak 1999 dan terakhir 2005 yang sudah mencapai cetakan ke-167. Dari tahun 1999 hingga 2015, bisa kita bayangkan sudah berapa ribu eksemplar buku itu dibaca anak-anak. Anak-anak kita sudah didoktrin paham radikal selama bertahun-tahun lamanya.

Tapi terlalu dini juga bila mengkaitkan buku ini dengan ajaran radikalisme?

Bayangkan di jilid lima ada kata seperti bantai kiai. Dalam analisa kami, buku ini dirancang untuk indoktrinasi dan inide­ologisasi. Buktinya ditemukan kata-kata manhaj batil, sahid di jalan, gegana ada dimana-mana. Mereka juga menanamkan nama-nama tokoh radikal yang anak TK tidak paham seperti bin Baz. Itu ulama garis keras dari Arab Saudi penganut paham salafi wahabi yang nama panjangnya kalau tidak salah Abdullah bin Baz. Mereka berusaha menanamkan ideologi keras sejak dini seka­ligus menggambarkan ideologi dari penulis buku itu.

Setelah mengetahui temuan tersebut, lantas apa langkah selanjutnya yang dilakukan GP Anshor?
Kami langsung mengirim surat resmi pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Dan kami bersyukur, surat kami langsung diproses. Mendikbud langsung mengeluarkan edaran untuk menarik buku-buku itu. Bahkan Mendikbud juga men­gancam akan mencabut izin sekolah bila masih ditemukan penggunaan buku-buku terse­but. Mendikbud juga meminta agar penulis buku dan pener­bitnya diekspose ke publik. Menurutnya, penulis dan pener­bitnya harus diperiksa agar mereka ikut bertanggung jawab kepada publik.

Anda puas dengan reaksi dari Mendikbud?
Sebenarnya, langkah yang dilakukan Mendikbud tidak lebih seperti pemadam kebakaran. Apalagi, kasus ini bukan baru pertama kali terjadi. Dulu pernah ada buku anak SD berbau unsur pornografi setelah ada laporan juga. Artinya, selama ini upaya pencegahan yang dilakukan pe­merintah dalam peredaran buku-buku yang dianggap tidak pas untuk anak-anak masih kurang.

Menurut Anda seperti apa idealnya?
Kami akui, pemerintah dalam hal ini Mendikbud tentu akan kedodoran bila harus mengawasi sendiri peredaran buku-buku seperti ini. Jadi, alangkah lebih baiknya dalam pengawasan ini Mendikbud membentuk badan khusus dengan melibatkan ban­yak kalangan, seperti kampus, or­mas kepemudaan hingga tokoh-tokoh masyarakat. Agar setiap saat, badan khusus ini melakukan pemeriksaan terhadap peredaran buku yang tidak layak. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Di Hadapan Eks Menlu, Prabowo Nyatakan Siap Keluar Board of Peace Jika Tak Sesuai Cita-cita RI

Rabu, 04 Februari 2026 | 22:09

Google Doodle Hari Ini Bikin Kepo! 5 Fakta Seru 'Curling', Olahraga Catur Es yang Gak Ada di Indonesia

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:59

Hassan Wirajuda: Kehadiran RI dan Negara Muslim di Board of Peace Penting sebagai Penyeimbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:41

Ini Daftar Lengkap Direksi dan Komisaris Subholding Downstream, Unit Usaha Pertamina di Sektor Hilir

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:38

Kampus Berperan Mempercepat Pemulihan Aceh

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:33

5 Film yang Akan Tayang Selama Bulan Ramadan 2026, Cocok untuk Ngabuburit

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:21

Mendag Budi Ternyata Belum Baca Perintah Prabowo Soal MLM

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:54

Ngobrol Tiga Jam di Istana, Ini yang Dibahas Prabowo dan Sejumlah Eks Menlu

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:52

Daftar Lokasi Terlarang Pemasangan Atribut Parpol di Jakarta

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:34

Barbuk OTT Bea Cukai: Emas 3 Kg dan Uang Miliaran Rupiah

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:22

Selengkapnya