Berita

Jenderal Polisi Badrodin Haiti:net

Wawancara

WAWANCARA

Jenderal Polisi Badrodin Haiti: Sejak 2009, Pemerintah Dan Polri Jadi Target Aksi Teroris

RABU, 27 JANUARI 2016 | 08:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti menyatakan ancaman terorisme masih akan terjadi. Sampai saat ini, beberapa pentolan aksi teroris masih berkeliaran di sejumlah wilayah di Tanah Air.

"Saya katakan ancaman masih cukup memberikan risiko bagi kita. Ada beberapa tokoh di Suriah. Bahrun Naim, Bahrun Syah terkait Abu Jandal, ini semua terkait dengan orang Indonesia," kata Jenderal Badrodin Haiti kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Bahkan motif dan target sasa­ran dari aksi terorisme juga su­dah mulai bergeser sejak beber­apa tahun terakhir. Seperti apa sepak terjang teroris itu, berikut wawancara selengkapnya :


Apa perkembangan kinerja yang sudah dilakukan pihak Kepolisian terkait aksi teror bom di kawasan Thamrin?
Terkait aksi tersebut, Kepolisian memastikan itu didalangi Bahrun Naim. Dalam teror itu, setidaknya ada 35 orang korban yang delapan di antaranya meninggal, termasuk empat pelaku teroris. 22 warga sipil luka-luka, lima anggota polisi luka-luka. Diduga ini dilakukan kelompok Bahrun Naim yang ingin membuktikan kekuasaan ISIS di Asia Tenggara. Kemudian, pihak Polri sudah mengamankan 19 orang diduga pelaku terkait teror bom Thamrin. Dari 19 orang ini, semuanya dari berbagai jaringan teroris.

Dalam aksi bom Thamrin, banyak pihak menuding aparat Kepolisian sudah kecolongan. Tanggapan Anda?

Begini, menurut saya, sebe­narnya itu sudah kita deteksi se­jak November 2015 lalu. Waktu itu, sudah ada informasi akan ada serangan teroris. Prediksinya akan dilakukan pada malam Natal dan juga malam pergantian tahun Baru.

Sasaran serangan teroris waktu itu adalah Kepala Polri, Kepala Densus 88, BNPT, Kapolda Metro Jaya, mantan Kepala Densus dan sejumlah pejabat lainnya. Maka waktu itu pun sudah kita tingkatkanoperasi dan kewaspadaan. Sepanjang 7 Desember 2015 hing­ga 3 Januari 2016 peningkatan pengawasan dan kewaspadaan dilakukan.

Saya kira juga, kesigapan pen­anganan terhadap serangan teror di Jalan Thamrin itu adalah satu rangkaian kinerja intelijen kita dalam mengantisipasi serangan terorisme. Jadi, ini bukan ke­lengahaan.

Jadi tidak benar bahwa intelijen kita lengah?

Saya kira, itu semua rangkaiandari kerja-kerja intelijen ki­ta. Ada kecepatan melakukan pencegahan, bertindak agar korban tidak semakin banyak. Mengamankan lokasi, menge­vakuasi korban dan melumpuh­kan penyerang.

Belajar dari kasus yang terjadi sepanjang tahun 2015 hingga insiden di kawasan Thamrin, sepertinya motivasi teroris itu tidak sama..
Benar. Aksi terorisme saat ini tak hanya berkaitan dengan ideologi dan politik. Namun, aksi teror ini mulai berkembang karena motif ekonomi. Beberapa kejadian seperti teror bom di Mal Alam Sutera dan di Duren Sawit.

Tadi Anda sebut sebelum ak­si di Thamrin, sudah ada anca­man dengan target Kepolisian. Bisa dijelaskan?
Iya. Saat ini terjadi pergeseran target dari pelaku teror yakni penyerang petugas keaman­an. Dalam kasus bom di Jalan Thamrin kemarin, menunjukkan sasarannya menyerang petugas polisi. Sejak tahun 2000 sam­pai 2009, pelaku teror lebih menitikberatkan penyerangan terhadap pihak asing. Namun se­lama enam tahun ini, sudah ada perubahan dalam target teror. Periode 2009 sampai sekarang, lebih menargetkan ke pemerin­tah dan personel polri.

Terkait pengejaran terhadap teroris dari jaringan Santoso, seperti apa prograsnya?
Polri terus melakukan penge­jaran terhadap Santoso dan kelompoknya.

Kenapa sih susah sekali tangkap Santoso dan kelom­poknya?
Begini, kondisi geografis di Sulawesi Tengah sangat luas dan medannya sulit. Polri su­dah melakukan operasi Camar Maleo I hingga IV guna melaku­kan pengejaran Santoso dan kelompoknya, tapi Santoso belum tertangkap. Dalam operasi Camar Maleo itu Polri sudah mengamankan 20 pelaku tero­ris kelompok Santoso serta 825 senjata.

Polri tidak pernah meny­erah dan masih terus melakukan pengejaran terhadap Santoso. Setelah operasi Camar Maleo, Polri akan melanjutkan pengaja­ran melalui operasi Tinombala, mulai 10 Januari lalu. Dari operasi Timnola, kita telah mengamankan tiga orang dan satu tewas. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya