Berita

PSI Serukan Negara Hadir Dalam Kasus Gafatar

SELASA, 26 JANUARI 2016 | 08:58 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyerukan Negara berperan dan hadir dalam penyelesaian kasus Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). T‎erlepas apakah Gafatar kemudian dinyatakan bersalah atau tidak secara hukum, PSI meminta Negara beserta aparat keamanan memberikan perlindungan maksimal.

‎"B‎ukan untuk melindungi Gafatar beserta ajarannya tetapi perlindungan hukum bagi warga negara Indonesia dan penegakan asas praduga tak bersalah," ‎ujar Ketua Umum PSI Grace Natalie dalam keterangan (Senin, 26/1).

‎‎PSI meminta Negara memberikan prioritas perlindungan keamanan dan ketersediaan kebutuhan pokok kepada kelompok anak kecil, manula dan difabel. Negara harus memastikan bahwa tidak terjadi kekerasan dan pemaksaan kehendak dari pihak manapun, termasuk dari pihak Gafatar dan keluarga mereka sendiri.‎


‎PSI juga meminta Negara memastikan seluruh kelompok perempuan yang terlibat dalam kelompok Gafatar tidak menerima perlakukan pemaksaan kehendak dari pihak manapun. ‎

‎"Keikutsertaan mereka bukan atas keinginan dan kesadaran sendiri, melainkan keadaan yang dipaksakan sebagai bagian dari konstruksi sosial dan ketergantungan ekonomi yang hingga saat ini masih menjadi permasalahan umum perempuan di Indonesia," katanya.‎

‎Selain itu PSI menyerukan Pimpinan Gafatar segera mematuhi hukum dan perundang-undangan yang berlaku, tidak memaksakan ajaran kepada pihak lain, tidak menyebarkan ajaran dan keyakinan dengan menjelek-jelekkan keyakinan orang lain, dan tidak menyebar kebencian dan intoleransi.

‎"Negara  harus segera memberikan kepastian hukum kepada Gafatar dan pengikutnya agar ekses sosial tidak meluas menjadi kebencian," seru Grace lagi.

‎Di lain pihak dia mengimbau masyarakat Indonesia menahan diri untuk melakukan tindakan kekerasan. Tidak pada tempatnya, kata Grace, menyelesaikan persoalan perbedaan keyakinan dengan tindakan yang justru tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. 

‎"Berikan waktu kepada pemerintah untuk menyelesaikan persoalan ini hingga batas waktu tertentu," imbuhnya.

‎Dia juga mengimbau media massa hendaknya tidak melakukan eksploitasi konten-konten kekerasan dan kemarahan yang membawa ketidakjernihan cara pandang publik terhadap persoalan Gafatar.[dem]‎

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya