Berita

foto:net

Ada Menteri Non Parpol Minta Back Up Partai Politik

Dibeberkan Politisi Nasdem
SENIN, 04 JANUARI 2016 | 08:57 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Maraknya kegaduhan politik nasional tidak lepas dari kinerja kementerian yang lebih suka membuat sensasi ketimbang prestasi. Hasilnya citra pemerintahan pun ikut-ikutan tercoreng.

Karena itu, Ketua DPP Partai Nasdem, Abdullah Syafei Alkadri menyindir ga­ya para menteri yang seperti pengamat politik dan Lembaga Swadaya Masyarakat.

"Kalau jadi menteri itu harus satu suara. Jangan jadi LSM, ormas atau seperti pengamat yang sudah memperdebatkan kebijakan pemerintah dari pada menjalankan kebijakan," sindir Abdullah kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Diakui dia, selama satu tahun pemerintahan Jokowi-JK berjalan banyak menteri yang doyan membuat sensasi dengan perang kata-kata di publik dan media massa. Tak hanya itu, menteri juga mengkritisi program menteri lain. "Seharusnya perdebatan itu terjadi di rapat kabinet. Di luar tidak ada lagi perdeba­tan," sarannya.

Akibat dari perdebatan yang tidak kondusif, mem­buat pemerintahan kehilangan kepercayaan dari masyarakat. "Saya tidak setuju kalau ada menteri yang mengkritik kebijakan menteri lainnya. Saya harapkan dihentikan ada menteri seperti itu."

Lebih baik, sambung dia, para menteri lebih fokus pada program kerjanya masing-masing dan mempercepat pem­bangunan pemerintah agar lebih baik lagi. Sebab, saat ini Indonesia kalah jauh dari neg­ara lain. "Masa iya kita terting­gal terus, kapan kita majunya kalau ribut terus," katanya.

Ditanya mengenai menteri yang membuat kegaduhan itu mayoritas dari non par­pol? Anggota DPRini tak menampik ada pendapat sep­erti itu, karena bukti memang menteri non parpol yang banyak membuat kegaduhan. "Tapi ada juga menteri non parpol minta back up dari parpol," ungkapnya.

Ditanya lebih lanjut men­genai menteri mana yang me­minta bantuan partai politik, Abdullah enggan menjelas­kan lebih detail. "Saya tidak bisa tunjukan. Tapi publik pasti tahu," elaknya.

Seperti diberitakan, Presiden Joko Widodo me­nyinggung masalah reshuffle kabinet saat membuka Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Sabtu kemarin.

Menurut dia, sangat mudah memutuskan merombak susu­nan kabinet dengan melihat indikator kinerja menteri yang selalu dia catat dalam buku rapor menteri. "Masalahnya apa? Karena apa? Karena dari kementerian belum ada tanda tangan? Telepon menterinya detik itu juga. Saya beri waktu 1,5 bulan. Saya cek lagi be­lum selesai, tinggal ditulis di rapornya, merah. Mudah, nanti reshuffle ganti. Memang sep­erti itu,"kata Jokowi. ***

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya