Berita

Dunia

Riyad Mansour: Kami Tidak Bisa Lagi Percaya Israel

JUMAT, 18 DESEMBER 2015 | 07:54 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Duta Besar dan Pengamat Tetap Negara Palestina (Ambassador and Permanent Observer of the State of Palestine) untuk PBB, Dr. Riyad Mansour, menyampaikan apresiasi yang mendalam bagi dukungan luar biasa dari rakyat Indonesia untuk kemerdekaan Palestina.

"Indonesia telah memberikan pengakuan bagi kedaulatan Palestina, terbukti dengan dibukanya Kedutaan Besar Palestina di Jakarta,” ujar Mansour, dalam Kuliah Peradaban di Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) di bilangan Menteng, Jakarta, kemarin.

Dia melanjutkan, komunitas internasional juga terus menunjukkan dukungan bagi Palestina. Dengan berkibarnya bendera Palestina di kantor PBB, telah terbuka banyak sekali kesempatan bagi rakyat Paletina untuk memenuhi hak-hak rakyatnya.


"Konvensi-konvensi internasional menjadi melekat bagi rakyat Palestina, hak untuk mendapatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan, dan lainnya, termasuk untuk menyeret Israel ke mahkamah internasional," ujarnya.

Mansour mengatakan bahwa perundingan bilateral selama 20 tahun lebih dengan Israel tidak membuahkan hasil apapun karena niat tidak baik dari pihak Israel.

Blokade, pembangunan pemukiman ilegal dan aksi kekerasan dari militer Israel telah menimbulkan penderitaan tak terperikan bagi rakyat Palestina. Rakyat Palestina juga menderita berbagai permasalahan sosial, di antaranya pengangguran di kalangan generasi yang sangat tinggi di Jerusalem Timur, urainya.

"Ada dua hal yang kita tuntut saat ini. Pertama, hentikan aksi kekerasan militer Israel, dan yang kedua adalah keterlibatan internasional karena kami tidak bisa lagi mempercayai pihak Israel,” ujar Mansour dalam diskusi yang dipandu Direktur Eksekutif CDCC, Alpha Amirachman, PhD.

Dr. Mansour lahir di kota Ramallah, Tepi Barat yang diduduki Israel. Ia memulai karir di PBB sejak 2005. Seiring dengan meningkatnya status Palestina, ia diangkat menjadi Duta Besar dan Pengamat Tetap Negara Palestina untuk PBB sejak 29 November 2012. [ald]

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Tujuh Kader Baru Resmi Masuk PSI, Mayoritas Eks Nasdem

Sabtu, 31 Januari 2026 | 18:11

Penanganan Hukum Tragedi Pesta Pernikahan di Garut Harus Segera Dituntaskan

Sabtu, 31 Januari 2026 | 17:34

Kata Gus Yahya, Dukungan Board of Peace Sesuai Nilai dan Prinsip NU

Sabtu, 31 Januari 2026 | 17:02

Pertamina Bawa Pulang 1 Juta Barel Minyak Mentah dari Aljazair

Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:29

Penegakan Hukum Tak Boleh Mengarah Kriminalisasi

Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:11

Kementerian Imipas Diminta Investigasi Rutan Labuan Deli

Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:07

Ekonomi Indonesia 2026: Janji vs Fakta Daya Beli

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:21

Gus Yahya: 100 Tahun NU Tak Pernah Berubah Semangat dan Idealismenya!

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:07

Australia Pantau Serius Perkembangan Penyebaran Virus Nipah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 14:57

Mundur Massal Pimpinan OJK dan BEI, Ekonom Curiga Tekanan Berat di Pasar Modal

Sabtu, 31 Januari 2026 | 14:52

Selengkapnya