Berita

Sulistyo:net

Wawancara

WAWANCARA

Sulistyo: Ada Orang Yang Suka Memberi Informasi Yang Aneh-Aneh Kepada Presiden

SENIN, 14 DESEMBER 2015 | 08:19 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Perayaan HUT PGRIyang dihadiri ratusan ribu guru di Gelora Bung Karno Jakarta kemarin akhirnya batal dihadiri Presiden Jokowi. Sebagai gantinya, Presiden mengutus Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.

Sepertidiketahui, Mendikbud Anis Baswedan dan MenPAN-RB Yuddy Chrisnandy mener­bitkan surat edaran larangan menghadiri acara tersebut. Ketika ditanya mengapa menerbitkan surat tersebut, Menteri Yuddy menjawab singkat; "No Comment, tanya Mendikbud," balasnya lewat pesan singkat. Sementara Menteri Anis, tak menjawab ketika dihubungi lewat sambungan telepon.

Padahal, berdasarkan hasil audiensi dengan pengurus PGRI, Presiden sebelumnya menyata­kan akan bersedia hadir seperti yang disampaikan Ketua Umum Sulistyo PGRI. Apakah Presiden berubah pikiran setelah pener­bitan surat edaran kedua men­terinya itu. Berikut wawancara Rakyat Merdeka dengan Ketua Umum PGRI Sulistyo;


Sebelum acara apa Presiden atau pihak istana memberi­tahu akan tidak hadir?
Jadi dulu waktu kami audiensi tanggal 6 April, memang sudah kami sampaikan agar beliau berkenan hadir, pada Hari Ulang Tahun PGRI.

Waktu itu beliau menjawab akan hadir. Kemudian untuk yang sekarang memang pada Jumat kemarin, saya diberitahu oleh Pak Menteri Sekretaris Kabinet bahwa Pak Presiden berhalangan hadir.

Apa alasan yang disam­paikan hingga berhalangan hadir?
Saya kurang tahu pasti, tapi saya memperoleh informasi ada acara yang tidak bisa ditinggal. Atau tidak enak badan, saya agak kurang jelas.

Apa mungkin ketidakhad­iran ini bisa diartikan bahwa Presiden sepaham dengan surat edaran larangan Mendikbud dengan MenPAN-RB?
Kalau saya memperoleh in­formasi malah beliau tidak suka dilarang-larang. Saya dengar beliau malah menyayangkan kok sampai ada larangan.

Informasinya dari siapa?
Ya sumber yang sangat bisa dipercaya...

Melihat hubungan PGRI dengan pemerintah seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Keinginan PGRI bermitra den­gan pemerintah, tak direspons, buktinya HUT saja dilarang dan Presiden tak hadir?
Saya tidak tahu persis, tetapi kalau saya memperhatikan as­pirasi di daerah, itu seluruh ka­bupaten/kota menganggap PGRI sebagai mitra. Sehingga, ketika ada larangan dari pusat, guber­nur, bupati/ walikota hingga kepala dinas banyak yang tidak menghiraukan. Karena mereka tahu persis bagaimana PGRI. Kalau di daerah, kegiatannya dilakukan bersama pemerintah daerah. Dan di pusat pun, ke­hadiran Presiden yang diwakili Menkokesra (Puan Maharani) dengan DPD pun sebenarnya itu representasi pemerintah. Ya jadi menurut saya tetap saja bahwa kami adalah bagian dan mitra strategis pemerintah.

Ada yang menuding pemer­intah bersikap seperti itu lan­taran PGRI ini dipakai sebagai alat untuk menggiring guru ke ranah politik. Itu benar?
Saya memastikan tidak ada agenda politik tertentu. Bahkan ini kegiatan rutin, tahunan. Hanya setiap sepuluh tahun (dasawarsa) kegiatannya agak besar dan melibatkan anggota dalam jumlah banyak.

Masak sih tidak ada kepentingan politik di PGRI?
Politik PGRI ya dalam rangka meningkatkan mutu guru dan untuk pendidikan. Tapi untuk politik praktis, kami sudah sejak tahun 1998 ketika kongres kami sudah memastikan posisinya netral. Tidak mendirikan partai politik, tidak bernaung di bawah partai politik, tidak ada kaitannya dengan partai politik manapun.

Sebenarnya berdasarkan Keppres Hari Guru Nasional (HGN) diselenggarakan berte­patan pada tanggal HUT PGRI. Kenapa kali ini tidak dilakukan bersamaan?
Kami sih seluruh Indonesia memperingatinya HGN/ HUT PGRI. Di daerah-daerah selu­ruhnya begitu.

Nah di pusat kenapa ber­beda?
Ya mungkin menterinya mem­punyai kreativitas sendiri ya. Yang dibutuhkan, ee... ingin tampil khusus. Yang khas mung­kin. Nah karena menteri yang mempunyai kewenangan tentu ya silakan saja.

Apa Anda berharap agar ke depan Menteri bisa menye­lenggarakan HGN bersamaan dengan HUT PGRI?
Ya jiwa semangat Keppres (Keputusan Presiden) Nomor 78 Tahun 1994 sebenarnya seperti itu. Dan selama ini selalu begitu. Baru tahun ini saja kok yang beda. Dan mudah-mudahan tahun depan semuanya bisa bersama. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya