Berita

Asep Warlan Yusuf:net

Wawancara

WAWANCARA

Asep Warlan Yusuf: DPR Sulit Diharapkan, Presiden Harus Tegas Support Penegakan Hukum

MINGGU, 06 DESEMBER 2015 | 08:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Penegakan hukum tahun 2015 mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak. Setahun belakangan ini, kinerja aparat penegak hukum dan pembuat undang-undang masih memprihatinkan. Sejumlah konflik antar penegak hukum seperti masih terjadi. Hal itu jelas mempengaruhi tegaknya supremasi hukum di Tanah Air. Apakah konflik antar penegak hukum dan pembuat undang-undang akan kembali terjadi tahun depan. Berikut wawancara Rakyat Merdeka dengan Profesor Asep Warlan Yusuf;  

Bagaimana kondisi penegakan hukum di Tanah Air setahun belakangan ini?
Secara umum buruk. Penegakan hukum di Indonesia terkesan masih berat sebelah. Aparat penegak hukum sangat lembek, pedang hukum terasa tumpul ketika menangani atau berhada­pan dengan pelaku tindak pidana yang pelakunya dari golongan kasta atas.

Ada diskriminasi perlakuan hukum antara mereka yang memiliki uang dan yang tak memiliki uang, antara mereka yang berkuasa dan yang tak punya kuasa.

Ada diskriminasi perlakuan hukum antara mereka yang memiliki uang dan yang tak memiliki uang, antara mereka yang berkuasa dan yang tak punya kuasa.

Kenapa bisa begitu?
Karena antarlembaga penegak hukum tidak bersinergi dengan baik. Begitu juga hubungannya dengan aparat negara lainnya tidak harmonis. Belakangan ini kita semakin merasakan ada hubungan yang kurang harmo­nis antarlembaga pemerintah atau lembaga legislatif, dengan lembaga yang bertugas di bidang penegakkan hukum.

Apakah tahun depan akan terjadi lagi gesekan antara KPK dan Polri?
Saya berharap tidak. Penegakkan hukum khususnya kasus ko­rupsi mutlak harus dilakukan se­cara bersama-sama antarlembaga penegak hukum. Semoga dengan terpilihnya pimpinan KPK baru dan revisi Undang-Undang KPK tahun depan, hubungan antar lem­baga penegak hukum khususnya KPK, Polisi dan Kejaksaan, bisa menjadi lebih harmonis.

Agar aparat penegak hukum harmonis apakah perlu sistem penegakan hukum diubah?
Tak perlu. Konflik KPK den­gan Polri yang terjadi beberapa waktu itu misalnya bukan karena sistem. Sistemnya sudah bagus, tapi karena oknumnya. Mereka mempunyai kepentingan. Karena itu, dibutuhkan peranan Presiden untuk menertibkan antarpimpi­nan lembaga penegak hukum agar bekerja sesuai aturan.

Terkait wacana revisi Undang-Undang KPK Anda setuju?
Selama tidak untuk mem­perlemah kenapa tidak. Kalau tujuannya untuk menata kembali agar harmonis dengan lembaga penegak hukum lain, boleh-boleh saja. Yang penting tidak ada motif untuk melemahkan.

Bagaimana Anda melihat kinerja DPR sebagai pembuat undang-undang?
DPR sebagai lembaga pembuat undang-undang masih disibuk­kan dengan urusan-urusan yang remeh-temeh, mulai dari kegadu­han perekrutan calon pimpinan lembaga, sampai urusan inter­nalnya sendiri. Seharusnya, soal pemilihan komisioner lembaga tinggi serahkan saja ke pemerin­tah. Semoga tahun depan anggota DPR bisa lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi sesuatu.

Melihat itu apa prediksi Anda terhadap penegakkan hukum tahun depan?
Dengan diundur-undurnya pemilihan capim KPK oleh DPR dan bila revisi Undang-Undang KPK melemahkan kewenangan KPK, saya pesimistis penegakan hukum di Indonesia bisa kokoh tahun depan. Bisa jadi malah makin melempem.

Apakah artinya tahun depan koruptor makin merajalela?
Bila lembaga kewenangan penegak hukum lemah, tentu akan menyuburkan koruptor. Terlebih, peluang untuk korupsi makin besar, seperti dana desa. Bukan tidak mungkin kepala desa juga akan menyelewengkan dana itu ke kantong pribadinya.

Lantas bagaimana peranan DPR untuk meminimalisir korupsi?
DPR sulit diharapkan dalam penegakan hukum. Banyak intrik-intrik di Senayan yang justru menganggu penegakan hukum. Itu wajar, sebab mereka tunduk pada partai politik, bukan masyarakat. Yang penting DPR ke depan bisa lebih profesional saja mengawasi proses penega­kan hukum.

Saran Anda...
Harus ada leadership dari Presiden. Presiden harus tegas dalam mensupport penegakan hukum. Siapa pun pimpinan lem­baga penegak hukum yang ber­masalah dan memble langsung saja diganti. Dengan begitu, bisa terlihat bahwa Presiden memi­liki kekuatan penuh dan concern terhadap penegakan hukum. Kuncinya di presiden wajah penegakan hukum tahun depan. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya