Berita

sofjan djalil/net

Politik

Payah, Jokowi Mereduksi Tanggung Jawab Urus Freeport Ke Sofyan Djalil

JUMAT, 04 DESEMBER 2015 | 11:45 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Di tengah "euforia" isu pelanggaran etika Ketua DPR RI, Setya Novanto, terkait pembicaraannya dengan Freeport Indonesia, perhatian publik lepas dari peran Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Sofyan Djalil.

Beberapa waktu lalu, Sofyan ditugaskan Presiden Joko Widodo untuk menyusun daftar kewajiban Freeport dalam memenuhi standarisasi izin tambang di Indonesia. Belum diketahui apa saja isi daftar itu. Namun, laporan akhir dari Sofjan itu rencananya akan disampaikan pada bulan ini.

Kebijakan Jokowi itu dikiritik pengamat pertambangan yang juga Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara.


Mantan anggota DPD RI ini menyatakan, Presiden Jokowi tidak boleh mereduksi tanggung jawab menangani Freeport kepada Sofjan. Apalagi, pembuatan daftar semacam itu hanyalah persoalan kecil dibandingkan kewajiban-kewajiban utama yang harus dipenuhi Freeport sebelum ada negosiasi terkait nasib kontrak karya.

"Jokowi sendiri harus bisa menjalankan (negosiasi) apa saja yang harus dipenuhi oleh Freeport. Ketua tim negosiasi itu seharusnya Jokowi," tegas Marwan saat dihubungi redaksi, Jumat (4/12).

Marwan mengingatkan ada empat syarat yang belum dipenuhi dan wajib segera dipenuhi Freeport Indonesia. Yaitu, peningkatan royalti, divestasi 51 persen sahamnya lewat Menteri Keuangan atau BUMN, membayar kompensasi kerusakan lingkungan sebesar US$ 5 miliar, dan pembangunan smelter di tanah Papua.

"Soal kompensasi itu sudah diminta Rizal Ramli waktu masih Menko Perekonomian 14 tahun lalu. Rizal juga yang memaksa peningkatan royalti. Kalau pemerintah memang inginkan itu, ya Presiden Jokowi sendiri harus bicara. Jangan Rizal saja yang ngomong," ungkap Marwan.

Penyusunan daftar kewajiban Freeport oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas, disebut Marwan tidak terlalu penting jika dibandingkan kewajiban negara membentuk tim negosiasi yang diketuai presiden. Tim negosiasi harus diperkuat kinerja kementerian terkait, misalnya Kementerian Keuangan dan Kementerian Kehutanan-Lingkungan Hidup.  

"Sofyan Djalil itu punya banyak pakar di kementeriannya, tinggal tugaskan saja. Tapi anda buat syarat apapun, sebagus apapun, kalau tidak bisa memaksa Freeport, buat apa?" tegas Marwan. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya