Berita

M Subuh:net

Wawancara

WAWANCARA

M Subuh: Kematian Bayi di Papua Karena Virus, Bukan Penyakit Yang Aneh-aneh...

RABU, 02 DESEMBER 2015 | 09:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kasus kematian 32 bayi yang terjadi di Kabupaten Ndu­ga, Papua, sejauh ini masih misterius. Kementerian Kes­ehatan (Kemenkes) menampik jika dikatakan pihaknya lambat dan tidak serius dalam menangani masalah ini.

Kepada Rakyat Merdeka, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes M Subuh yang ditugaskan untuk mengurus masalah itu memberi penjelasan berikut:

Bagaimana perkembangan kasus kematian 32 bayi di Nduga?
Hari Minggu lalu tim dari Jakarta sudah berangkat. Mereka baru berangkat siang dibantu helikopter TNI yang berada di Wamena. Mungkin tim ini bisa bergerak lebih komprehensif karena kita bawa tim lengkap, kurang lebih sekitar delapan orang.

Hari Minggu lalu tim dari Jakarta sudah berangkat. Mereka baru berangkat siang dibantu helikopter TNI yang berada di Wamena. Mungkin tim ini bisa bergerak lebih komprehensif karena kita bawa tim lengkap, kurang lebih sekitar delapan orang.

Terdiri dari unsur apa saja tim itu?
Ada dokter, epidemolog, ada tenaga parasitolog. Ada juga tenaga laboratorium, komplit tenaganya. Jadi kita bisa mela­cak apa sih kondisinya, dan kita bisa memperbaiki kondisi yang ada. Dan mudah-mudahan bisa berlangsung cepat karena dibantu helikopter.

Ada kendala?
Nggak kebayang juga, suhu bi­sa sampai 4-6 derajat celcius. Tim kita juga tidak menyangka suhu udara bisa sampai seperti itu.

Apa membawa obat-oba­tan?
Yang dari Jakarta tidak bawa obat. Ada yang dibawa yang yang lebih penting seperti pemberian makan tambahan, vaksinasi buat imunisasi, ya semua, lengkap. Imunisasi juga lengkap, dari po­lio sampai campak kita bawa.

Berapa lama penelusuran yang dilakukan tim dari Jakarta?
Paling lama tiga hari, karena ada empat kampung. Dan kam­pungnya itu jangan disamakan dengan kampung di sini lah ya. Antar-kampung mungkin (ja­raknya) bisa 10 kilometer.

Apakah ada sampel dari bayi yang meninggal sudah diambil?
Ya, sampel darah sudah di­ambil dan kita bawa ke Jakarta, kemarin. Kita menunggu satu atau dua hari ke depan, apa sih sebenarnya. Yang jelas ini dis­ebabkan virus, tapi bukan virus yang aneh-aneh juga.

Lalu?
Ini bisa enterovirus (yang menyebabkan masalah pencer­naan). Bisa juga karena pneu­monia. Jadi kalau yang dikata­kan aneh-aneh dan banyaknya penyakit, itu tidak sama dengan kenyataan yang ada.

Ada berapa sampel yang diambil?
Sekitar 10 sampai 12 bayi.

Apa saja?
Yang kita ambil sampel tinja, dahak, tenggorokan. Kita juga mengambil sampel dubur, air, tanah dan lain-lain.

Bagaimana sebenarnya fasilitas kesehatan di sana?
Fasilitas kesehatan di sana sebenarnya ada. Bahkan di sana pun ada tenaga kesehatan. Ada bidan, ada perawat, ada dokter tetapi belum bisa dimanfaatkan secara maksimal masyarakatnya.

Kenapa?
Karena masyarakat tidak mengerti berobat. Persepsi masyarakat di sana itu kalau pe­nyakitnya belum parah, mereka tidak akan mau berobat. Kalau kita kan masyarakat yang tinggal di kota besar, begitu kepala pus­ing saja sudah langsung berobat. Kalau di sana belum tentu. Jadi memang ada persepsi yang ber­beda di sana. Untuk mengubah itu ke depan akan gencarkan penyuluhan kesehatan.

Kemenkes dinilai lambat dan tidak serius menangani masalah ini, tanggapan Anda?
Saya kira tidak demikian ya. Karena begitu dengar berita kita langsung turun ya. Jadi kita coba berpikir positif. Kalau mau kita tanya, mungkin (yang lebih mengetahui) Pemerintah Daerah (Pemda) setempat.

Mengapa Pemda?

Karena rentang kendali kita sebenarnya jauh, tapi kita tetap turun 23 (November) malam.

Apakah hal ini masuk keja­dian luar biasa (KLB)?
Jadi sebenarnya ini bukan out­break atau KLB. Karena belum terbukti (32 bayi meninggal) di sana. ***

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Posko Kesehatan PLBN Skouw Beroperasi Selama Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:03

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

Kapolri: 411 Jembatan Dibangun di Indonesia, Polda Riau Paling Banyak

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:47

Gibran Salat Id dan Halal Bihalal di Jakarta Bersama Prabowo

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:30

Bonus Atlet ASEAN Para Games Cair, Medali Emas Tembus Rp1 Miliar

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:05

Gibran Pantau Arus Mudik dari Command Center Jasa Marga

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:47

Pengusaha Kapal Minta SKB Lebih Fleksibel Atur Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:38

Pengiriman Pasukan RI ke Gaza Ditunda Imbas Perang Iran

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:25

Bias Layar: Serangan Aktivis KontraS Ancaman Demokrasi dan HAM

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:10

Istana Sebar Surat Edaran, Larang Menteri Open House Lebaran Mewah

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:06

Selengkapnya