Berita

Kesehatan

Pemerintah Terus Gencarkan Pencegahan HIV AIDS

SENIN, 30 NOVEMBER 2015 | 23:00 WIB

 HIV AIDS saat ini secara global trennya menunjukkan perlambatan. Penyakit mematikan ini, s‎ejak tahun 2009 telah turun hingga 35 persen dan mereka yang meninggal karena AIDS menurun hingga 24 persen. Hampir 16 juta orang dengan HIV/AIDS kini menerima pengobatan antiretroviral. Di kawasan Asia Tenggara, infeksi baru menurun 32 persen antara tahun 2000-2014, dan hampir 1,3 juta orang menjalani pengobatan antiretroviral.

‎Dari segi profesi pekerjaan, ternyata Ibu Rumah Tangga (IRT) menjadi urutan kedua terbesar yang terinfeksi HIV AIDS, yakni 9.096 kasus dari sejak tahun 1987 sampai September 2015. Di urutan pertama 21.434 kasus tidak diketahui profesinya. Di urutan kedua, profesi karyawan dengan 8.287 kasus, dan ketiga wiraswasta, dengan jumlah kasus 8.037.

‎Kondisi ini kata Direktur Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Sigit Priohutomo, karena saat ini penyebarannya sudah banyak tersebar. Sekitar 6,7 juta pria baik yang sudah menikah atau belum suka membeli sex. Ditambah 230 ribu wanita penjaja sex, dan 75 ribu lewat alat suntik. Serta yang terbaru 1,13 juta jiwa karena pergaulan sesama jenis.‎


"Target pemerintah kalau dulu mengarah kepada orang terduga terkena, tetapi sekarang semua disasar skrining. Utamanya pada ibu hamil yang dihimbau agar memeriksakan diri dan kandungannya. Sehingga secepatnya dapat dilakukan pengobatan,” papar Sigit saat temu media, Kantor Kemkes, Jakarta, Senin (30/11). Acara ini dilaksanakan juga dalam rangka peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember.

Pada kesempatan yang sama, salah seorang penderita HIV AIDS yang hadir, Gina Santi bercerita, kalau dirinya terinfeksi HIV AIDS sejak tahun 2005 dari suaminya. Alhasil, anak yang dikandungnya pun ikut terinfeksi. Akan tetapi, setelah suaminya meninggal, Ibu Gina kembali menikah dan melahirkan 3 anak yang setelah dites negatif HIV AIDS.

‎‎Namun, kendala yang dihadapi oleh dirinya adalah masih banyaknya stigma negatif dari masyarakat dan teman bahkan keluarga akan dirinya. "Baik ditempat kerja atau lingkungan masih banyak stigma negatif yang saya dapat,” jelasnya.‎ [sam]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Jepang Akui Otonomi Sahara Solusi Paling Realistis

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:21

Pencanangan HUT Jakarta Bawa Mimpi Besar Jadi Kota Global

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:02

Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah Jadi 4 Kategori, Ini Daftarnya

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:40

Kritik Amien Rais Dinilai Bermuatan Panggung Politik

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30

Pramono Optimistis Persija Menang Lawan Persib

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:18

Putin Klaim Perang Ukraina Segera Berakhir, Siap Temui Zelensky untuk Damai

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:10

JK Negarawan, Pemersatu Bangsa, dan Arsitek Perdamaian Nasional yang Patut Dihormati

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:48

BMKG-BNPB Lakukan OMC Kendalikan Potensi Karhutla di Sumsel

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:41

Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Tanpa Sepengetahuan Irak

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:23

KPK Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Anggota BPK Haerul Saleh

Minggu, 10 Mei 2026 | 09:44

Selengkapnya