Berita

teguh santosa/rmol

Publik Berhak Tahu Rekaman Utuh #PapaMintaSaham

MINGGU, 22 NOVEMBER 2015 | 22:43 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Publik berhak mengetahui rekaman utuh pembicaraan antara  Ketua DPR Setya Novanto dengan petinggi Freeport Indonesia yang diduga Ma’roef Sjamsoeddin dan pengusaha yang diduga Muhammad Reza Chalid.

Transkrip pembicaraan itu, sebagian, telah diserahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said kepada Majelis Kehormatan DPR RI dan menjadi bukti dari upaya pemerasan dan pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla oleh Ketua DPR Setya Novanto.

Di tengah masyarakat kasus ini ramai disebut sebagai skandal "#papamintasaham".


Pemimpin Umum Kantor Berita Politik RMOL, Teguh Santosa, ketika memberikan sambutan dalam diskusi Front Page bertema "Siapa yang Bohong, SS atau SN: Membongkar Rahasia Terdalam Freeport" di Kafe Dua Nyonya, Cikini, Jakarta, Minggu siang (22/11), mengatakan, publik berhak mengetahui isi lengkap pembicaraan pihak-pihak yang disebutkan itu.

Bahkan, kalaulah transkrip yang diedarkan itu berasal dari pembicaraan dalam pertemuan kesekian di antara mereka, publik pun perlu tahu pembicaraan dalam pertemuan-pertemuan lain yang terkait dengan skandal #papamintasaham.

"Penting bagi publik untuk mengetahui kasus ini secara utuh. Kalau tidak dikhawatirkan lebih banyak nuansa politiknya," ujar Teguh.

Sebagai pembicara dalam diskusi itu adalah anggota DPR RI Effendi Simbolon, pengamat ekonomi Ichsanuddin Noersy, Kordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi dan pengamat politik Zarmansyah.

Teguh juga mengatakan, kasus ini dapat dijadikan pintu masuk untuk mereview kembali relasi Indonesia dengan pihak asing, baik aktor negara maupun aktor non negara seperti perusahaan-perusahaan multinasional raksasa.

Kasus ini pun, sambungnya, dapat dijadikan bahan diskusi yang serius oleh Presiden Joko Widodo untuk meninjau kembali kesatupaduan Kabinet Kerja.

"Publik menjadi bingung karena kembali terjadi saling bantah di antara pembantu-pembantu presiden," kata dia.

Masih kata Teguh, terbuka peluang lebar bagi Presiden Jokowi untuk mengevaluasi semangat setiap pembantunya, apakah sejalan dengan Nawacita dan Trisakti, atau tidak.

"Dari kasus ini barangkali bisa diketahui mana pembantu Presiden Jokowi yang bersemangat menjalankan Nawacita dan Trisakti, dan mana yang tidak, bahkan bertentangan dengan hal itu," demikian Teguh. [dem]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya