Berita

Abdelhamid Abaaoud/net

Dunia

HOROR DI PARIS

Abdelhamid Abaaoud Tewas, Risiko Masih Tinggi

JUMAT, 20 NOVEMBER 2015 | 14:03 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Abdelhamid Abaaoud, pemimpin kelompok yang melakukan rangkaian serangan di Paris pada Jumat malam (13/11). Ia tewas dalam penyergapan dramatis yang mengguncang kawasan pemukiman Saint Denis di utara Paris, Rabu lalu.

Meski demikian, pihak berwenang Perancis menegaskan bahwa pekerjaan mereka masih jauh dari selesai. Kini, enam hari setelah serangkaian serangan terkoordinasi yang menewaskan 129 orang itu, setidaknya satu tersangka utama lagi masih buron.

Serangkaian penggerebekan di Belgia dan di pinggiran Paris merupakan bagian dari upaya menghabisi jaringan teroris sebelum mereka bisa menyerang lagi. Pemerintah Perancis menyatakan, ancaman dari ISIS, yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di Paris, tetap nyata.


"Kami sekarang harus siap untuk apa pun, segala jenis serangan. Meskipun kita tahu bahwa dalang dari serangan Paris telah tewas, risiko masih sangat tinggi," kata Wakil Wali Kota, Patrick Klugman, kepada wartawan CNN.

Para pejabat Perancis mengatakan, serangan hari Rabu pagi di sebuah apartemen di kawasan Saint Denis adalah langkah signifikan. Pada Kamis, aparat berwenang telah mengidentifikasi jasad Abdelhamid Abaaoud, dalang dari serangan di Paris. Tubuhnya ditemukan di tumpukan reruntuhan bangunan.

Seorang wanita yang meledakkan dirinya saat penggerebekan, Hasna Ait Boulahcen (26), juga teridentifikasi sebagai salah seorang kerabat dari Abaaoud.

Menteri Dalam Negeri, Bernard Cazeneuve, mengatakan bahwa Abaaoud "memainkan peran menentukan" dalam serangan di Paris dan memainkan bagian dalam empat dari enam serangan teror yang digagalkan sejak musim semi.

Kabarnya, badan-badan intelijen Barat pun sudah mencoba menangkap Abaaoud sebulan sebelum serangan di Paris, namun tanpa keberhasilan. [ald]

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Tujuh Kader Baru Resmi Masuk PSI, Mayoritas Eks Nasdem

Sabtu, 31 Januari 2026 | 18:11

Penanganan Hukum Tragedi Pesta Pernikahan di Garut Harus Segera Dituntaskan

Sabtu, 31 Januari 2026 | 17:34

Kata Gus Yahya, Dukungan Board of Peace Sesuai Nilai dan Prinsip NU

Sabtu, 31 Januari 2026 | 17:02

Pertamina Bawa Pulang 1 Juta Barel Minyak Mentah dari Aljazair

Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:29

Penegakan Hukum Tak Boleh Mengarah Kriminalisasi

Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:11

Kementerian Imipas Diminta Investigasi Rutan Labuan Deli

Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:07

Ekonomi Indonesia 2026: Janji vs Fakta Daya Beli

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:21

Gus Yahya: 100 Tahun NU Tak Pernah Berubah Semangat dan Idealismenya!

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:07

Australia Pantau Serius Perkembangan Penyebaran Virus Nipah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 14:57

Mundur Massal Pimpinan OJK dan BEI, Ekonom Curiga Tekanan Berat di Pasar Modal

Sabtu, 31 Januari 2026 | 14:52

Selengkapnya