Berita

salamuddin daeng/net

Sudirman Said Agen Imperialis Pembela Freeport

JUMAT, 20 NOVEMBER 2015 | 03:14 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Perlakuan istimewa kepada Freeport menjadi bukti pemerintahan Presiden Joko Widodo melestarikan dominasi asing dalam pengelolaan sumber daya alam.

"Perlakuan Pemerintahan Jokowi terhadap Freeport selaras dengan kepentingan asing untuk melanjutkan investasi model kolonial di Indonesia," ujar peneliti ekonomi-politik dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng kepada wartawan di Jakarta, Kamis (19/11).

Menteri Energi Sumber Daya Mineral Sudirman Said adalah tokoh yang telah menjadikan pemerintahan Jokowi sebagai agen imperialis dalam melanjutkan ekonomi yang berwatak kolonial. Melalui Kementrian ESDM, kata Salamuddin, pemerintah terus memberikan perlakuan istimewa kepada Freeport.

Sedikitnya ada tiga manuver Menteri Sudirman Said yang menunjukkan dirinya antek Freeport. Pertama, berusaha melakukan perpanjangan kontrak Freeport untuk menguasai tanah dalam jumlah yang sangat luas di Papua.

Kedua, melakukan berbagai macam cara agar Freeport tetap dapat melakukan eksport bahan mentah dan tidak membuat pemurnian atau pengolahan di dalam negeri. Dan terakhir, melakukan berbagai upaya agar Freeport tidak perlu menjalankan kewajiban divestasi saham kepada Pemerintah Indonesia.

"Ketiga hal ini mencirikan bahwa Menteri ESDM sebagai agen kolonial sejati," tegas Salamuddin.

Manuver Menteri Sudirman Said itu, kata Salamuddin, dilakukan secara vulgar sekalipun bertentangan dengan Konstitusi, UU dan bahkan kontrak karya Freeport.

Menurut ketentuan Freeport misalnya diperintahkan untuk melakukan pengolahan di dalam negeri dan tidak lagi mengekspor bahan mentah.

Freeport harus melakukan divestasi saham bukan kepada elit politik berkuasa tetapi kepada pemerintah pusat, daerah, BUMN dan BUMD. Dan divestasi Freeport harus dilakukan secara langsung bukan melalui IPO.

"Yang akan disisahkan oleh Pemerintahan Jokowi dan Menteri Sudirman Said hanya kerusakan lingkungan, hancurnya wilayah penghidupan masyarakat Papua, kemiskinan rakyat Indonesia, beban keuangan di masa depan untuk memperbaiki lingkungan yang telah mengalami kerusakan yang mengerikan," demikian Salamuddin.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya