Berita

Anang hermansyah/net

Politik

Keliru Jadikan UN Standar Kelulusan Siswa

SENIN, 16 NOVEMBER 2015 | 16:19 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Anggota Komisi X DPR RI, Anang Hermansyah mengatakan sistem pendidikan Indonesia jangan menjadi momok bagi peserta didik. Ujian Nasional (UN) yang dijadikan sebagai standar kelulusan menurut Anang menjadi salah satu biang keladinya.

‎"Menjadikan UN sebagai standar kelulusan adalah satu kekeliruan. Menurut saya kebijakan tersebut harus dievaluasi kembali," ujar Anang Hermansyah melalui siaran persnya, Senin (16/11).

Terkait hal itu, Anang lantas menyitir Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam peraturan tersebut tertuang jelas bahwa untuk menjamin dan mengendalikan mutu pendidikan sesuai dengan standar nasional pendidikan dengan dilakukan evaluasi, akreditasi dan sertifikasi. Evaluasi lantas diterjemahkan pemerintah dengan menyelenggarakan UN.

UN merupakan evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah yang juga harus memenuhi standar penilaian pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik sesuai dengan Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan.

"Pemerintah saat ini sedang mencari rumusan bagaimana penyelenggaraan pendidikan yang menarik dan menyenangkan bagi peserta didik," ujarnya.

Politisi PAN dan juga artis senior tersebut menambahkan, saat dirinya melakukan kegiatan penyerapan aspirasi atau reses di daerah pemilihannya Jember dan Lumajang, banyak siswa yang tidak menginginkan UN ditentukan oleh negara tetapi harus dari setiap sekolah masing-masing.

Dengan begitu sistem pendidikan harus dibangun hal yang menyenangkan mulai dari gurunya, cara mengajar dan pelajaran yang disampaikan harus menyenangkan dan menarik.

"Makanya kemudian dari sekian sekolah yang saya datangi, mungkin juga sekolah di kabupaten lain, jawabannya sama ketika siswa ditanya soal unas. Pelaksanaan UN itu masih menjadi horor yang menakutkan," katanya.

Dalam penilaian Anang, UN yang saat ini dijadikan sebagai standar kelulusan memiliki banyak kelemahan. "Standar nilai UN sama di seluruh Indonesia. Padahal kondisi sarana prasarananya di setiap daerah berbeda-berbeda. Jadi sangat tidak adil jika standarnya disamaratakan," imbuh Anang.

Anang juga menambahkan, dengan dilaksanakannya UN sebagai syarat kelulusan maka akan menimbulkan kompetisi yang tidak sehat.

Pemanfaatan anggaran dana yang begitu besar saya pikir agak mubadzir. Ini karena pelaksanaan UN menghabiskan dana yang tidak sedikit, mulai dari perencanaan, hingga pelaksanaan UN," ungkap Anang.

Terakhir yang menjadi sorotannya atas kelemahan UN adalah penilaian yang sifatnya temporal (sesaat) dan hanya menilai satu aspek saja, namun menentukan kelulusan. Sehingga ia kembali menegaskan bahwa tidak selayaknya UN dijadikan sebagai standar kelulusan siswa.‎[dem]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Serap Aspirasi Warga Pandeglang, Arif Rahman Kawal Sektor Pertanian dan Perikanan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:14

Hormati Putusan MK, Komisi X DPR Minta Pendidikan dan MBG Tetap Jalan Beriringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak Maret

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:51

Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:41

Kesiapan Fasilitas Zikir Kebangsaan Monas: Dari Ambulans Hingga Ratusan Ribu Konsumsi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:34

K-SIGN Rote Ndao Dipacu Jadi Pilar Swasembada Garam Nasional

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:15

Harga Logam Mulia Terkoreksi Meski Mampu Akhiri Tren Penurunan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:02

Dul Mungkin Tak akan Naik Bus Malam Lagi Setelah Ketahuan Bawa Sabu

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:45

Arab Saudi Sambut Kesepakatan Pelucutan Senjata di Gaza, Israel Harus Mundur

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:34

Ramai Mal Pasang Pagar Tinggi di Tengah Situasi Kamtibmas Kondusif

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:23

Selengkapnya