Berita

Kesehatan

Kemenkes: Deteksi Dini Diperlukan untuk Mencegah Pneumonia

SABTU, 07 NOVEMBER 2015 | 17:59 WIB

Pneumonia adalah penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian pada balita. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, pada tahun 2014 ada 600.682 pneumonia dan 32.025 kasus pneumonia berat.

Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr.Sigit Priohutomo, MPH, mengatakan deteksi dini diperlukan agar status gejala pneumonia tidak menjadi pneumonia berat, karena sekitar 60 persen penderita pneumonia berat meninggal dunia.

Dia melanjutkan, pada peringatan hari Pneumonia, 12 November nanti, Kemenkes akan mengajak masyarakat mewaspadai pneumonia atau radang paru-paru akibat infeksi organisme yang berasal dari virus, bakteri dan jamur.


"Kalau batuk ditutup, jangan disemprot ke orang. Cara lain deteksi dini bisa dengan Tarikan Dada ke Dalam (TDDK)”, ujar dr. Sigit, Sabtu (7/11).

Adanya bencana asap di Indonesia, juga membuat balita lebih rentan terkena pneumonia. Fungsi paru menjadi terganggu akibat paparan asap yang kemudian menghambat pasokan oksigen.

"Pneumonia masih menjadi pembunuh nomer 1 bagi balita. Untuk itu, cegah lewat imunisasi lengkap, giatkan pemberian ASI dan hindari lingkungan jorok kumuh dan kotor termasuk paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan,” tegas dr. Sigit.

Sementara itu, dr. Nastiti Kaswandani, SpA(K), Ketua UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut pneumonia sebagai the forgotten killer atau pembunuh yang terlupakan pada anak-anak. Hal ini didasari oleh kewaspadaan yang kurang terhadap penyakit ini padahal angka kematiannya cukup tinggi.

"Pneumonia ini bisa disebut juga radang paru. Penyakit ini merusak bagian paru-paru yang berfungsi menyerap oksigen, sehingga pasien kekurangan oksigen yang bisa menyebabkan kematian. Angka kematiannya cukup tinggi namun masyarakat belum aware," tutur dr. Nastiti. [sam]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Gubernur BI pun Ikut Mundur, Ada Apa Ini Guru?

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:15

Rumah Bedeng di Lebak Bulus Kebakaran

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:00

Timnas Garuda Hadapi Timor Leste pada 31 Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:30

Revolusi, Romansa, dan Runtuhnya Komisariat SMID IISIP

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:21

Presiden Harus Tindak Tegas Londo Ireng yang Merugikan Kepentingan Bangsa

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:19

Orang Tak Percaya Perry Warjiyo Mundur karena Alasan Pribadi

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:33

83 Penonton Jadi Korban Tribun GOR Satria Banyumas Roboh

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:18

Ahok Ungkap Awal Pecah Kongsi dengan Jokowi

Selasa, 28 Juli 2026 | 04:00

Nama Bupati KBB Jeje Ritchie Dicatut untuk Jual Jabatan

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:35

Hantu itu Masih Gentayangan

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:18

Selengkapnya