Berita

BPK Temukan 15 Ribu Lebih Permasalahan Sepanjang‎ Semester I Tahun 2015

SENIN, 05 OKTOBER 2015 | 21:16 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Ketua Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Harry Azhar Aziz membacakan dan menyerahkan Ikhitisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) dan Laporan Hasil Pemeriksaan (LPH) Semester I Tahun 2015 saat Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (Senin 510).

Penyerahan IHPS dan LHP kepada DPR bertujuan untuk memberikan informasi secara menyeluruh mengenai hasil pemeriksaa BPK atas pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara.

IHPS tahun 2015 memuat ringkasan dari 666 objek pemeriksaan, terdiri dari 11 objek pada pemerintah pusat (17,57 persen), 518 objek pemerintah daerah atau BUMD (77,78 persen), serta 31 objek BUMN dan badan lainnya (4,65 persen).


"Berdasarkan jenis pemeriksaan terdiri atas 607 objek pemeriksaan keuangan (91,14 persen), pemeriksaan kinerja (0,75 persen) dan 54 pemeriksaan dengan tujuan tertentu (8,11 persen)‎," kata Harry.

Dia menjelaskan dalam hasil pemeriksaan BPK menemukan sebanyak 10.154 temuan yang memuat 15.434 permasalahan, yang meliputi 7.890 (51, 12 persen) permasalahan ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan UU senilai Rp 33,46‎, dan 7.544 (48,88 persen) permasalahan kelemahan sistem pengendalian itern (SPI).

Dari masalah ketidakpatuhan tersebut, sebanyak 4.609 permasalahan berdampak pada pemulihan keuangan negara/daerah/perusahaan (atau berdampak finansial) senilai Rp 21,62 triliun‎.

"Permasalahan berdampak finansial tersebut terdiri atas permalasahan yang mengakibatkan ‎kerugian Rp 2,26 triliun, potensi kerugian Rp 11,51 triliun dan kekurangan penerimaan Rp 7,55 triliun," jelasnya.

Selama proses pemeriksaan, entitas telah menindaklanjuti permasalahan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian, potensi kerugian, dan kekurangan penerimaan dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah/perusahaan senilai Rp 396,67 miliar.

"Selain itu, terdapat 3.137 permaslahan penyimpangan administrasi serta 144 permasalahan ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakonsistenan, ketidakefesianan dan ketidak efektifan seniali Rp 11.84 triliun," tutup Harry. [zul]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya