Wakil Ketua MPR RI Mahyudin menerima tamu kehormatan, anggota Parlemen Korea Selatan, Jun Byung Hun di ruang kerjanya, Lantai 9, Gedung Nusantara III, gedung DPR RI, Senayan, Jakarta (Selasa, 29/9). Jun juga adalah ketua federasi dunia olahraga permainan games, elecktronic sport.
Kedatangan Jun, menurut Mahyudin, meminta agar Indonesia mendukung olahraga games bisa masuk dalam Asian Games yang akan berlangsung di Indonesia pada tahun yang akan datang.
Diakui oleh Mahyudin bahwa olahraga ini di Indonesia belum popular. Olahraga ini disebut seperti permainan catur yang menggunakan ketrampilan tangan dan otak sehingga orang yang suka main games disebut bisa menjadi pandai.
Keinginan permainan games menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di Asian Games dikatakan oleh Jun bukan main-main, sebab penggemar dan penyuka permainan ini jumlahnya di bawah penggemar sepakbola. Selain itu, Jun juga berkeinginan bisa melaksanakan pertandingan games dunia di Jakarta.
Mendapat keinginan tersebut, Mahyudin menyambut kemauan Jun. Dirinya mengatakan kepada Jun bahwa keinginan itu akan disampaikan kepada Kemenpora RI. Meski demikian, Mahyudin menegaskan bahwa Indonesia tak boleh hanya menjadi pasar permainan games.
Indonesia diakui saat ini bersama dengan Thailand dan Vietnam merupakan pasar potensial dan besar permainan games di Asia Tenggara. Dengan jumlah penduduk 250 juta, pengguna internet di negara ini bisa mencapai 100 juta orang.
Diungkapkan oleh Mahyudin bahwa Korea Selatan saat ini menguasai pasar perangkat dan teknologi permainan games. Untuk tak sekadar menjadi pasar maka Mahyudin juga berharap agar negara gingseng itu juga mendorong tumbuh kembangnya usaha produksi games di Indonesia.
"Sehingga kita tak hanya menjadi pasar namun juga mampu membuat permainan games sendiri," ujarnya.
Diakui bahwa industri kreatif di Indonesia belum dilirik dan belum diprioritaskan padahal permainan games merupakan pasar potensial. Untuk itu dirinya mengharapkan agar Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif tak memandang sebelah mata namun juga serius melihat permainan games sebagai industri kreatif.
"Seharusnya industri kreatif yang ada tinggal didorong, dipermudah perijinan dan pinjaman, harus diberi fasilitas, sebab kalau tidak demikian maka kita akan menjadi pasar saja," demikian Mahyudin.
[ian]