Berita

darmin nasution/net

Kepretan Rizal Ramli Bisa Jadi Tinggal Mimpi karena Ketidakmampuan Tim Ekonomi

SENIN, 21 SEPTEMBER 2015 | 12:40 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

Masyarakat luas kembali berharap pada pemerintahan Joko Widodo setelah bulan Agustus lalu sang Presiden memasukkan tiga nama baru ke dalam Kabinet Kerja sebagai Menteri Kordinator. Ketiganya adalah Luhut Binsar Panjaitan, Rizal Ramli dan Darmin Nasution.

Dari ketiga tokoh ini penampilan Rizal Ramli yang paling banyak disoroti publik. Keberanian Rizal Ramli ngepret itu mengembalikan kepercayaan pada pemerintahan Jokowi yang tadinya hampir pupus.

Rizal Ramli tidak sembarang bikin gaduh. Dia mematahkan keinginan kelompok-kelompok tertentu yang ingin menangguk untung tak wajar di balik berbagai proyek pemerintah. Rizal Ramli juga menawarkan solusi untuk mendorong percepatan pembangunan. Rizal Ramli bergerak cepat merapikan sektor ril. Mengikis permainan pencari rente yang menciptakan ekonomi biaya tinggi.


Tetapi, bukan tidak mungkin kepretan Rizal Ramli akan kandas dan kembali jadi mimpi. Tanda-tanda ke arah itu sudah mulai terlihat jelas.

Faktor utamanya adalah, pembenahan sektor ril yang dilakukan Rizal Ramli tidak diiringi pembenahan di sektor finansial yang dikomandoi Menko Ekuin Darmin Nasution.

Darmin Nasution miskin gebrakan dalam sebulan pertama memimpin tim ekonomi.

Akhir pekan lalu (Jumat, 18/9) Darmin malah mengeluarkan pernyataan bernada putus asa dan membuat publik kembali bertanya-tanya pada kemampuan pemerintah. Kata Darmin, paket ekonomi yang baru diluncurkan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu tidak cukup jelas sehingga menyulitkan dunia usaha. Dia juga mengatakan, ada deregulasi yang belum tersosialisasi dengan baik.

Paket ekonomi yang diumumkan Presiden Jokowo pada tanggal 9 September itu bertujuan menjaga ekonomi makro, dengan memperkuat daya beli masyarakat dan memberdayakan ekonomi masyarakat daerah.

Darmin juga kurang bisa melihat celah lain dalam mengambil kebijakan ekonomi. Misalnya soal kebutuhan dana segar. Darmin lebih mau menambah utang dari pihak asing daripada mengupayakan piutang sebesar Rp 233 triliun yang belum ditagih, misalnya.

Soal piutang berjumlah fantastis ini disampaikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rizal Djalil, kemarin (Minggu, 20/9).

Dengan mengandaikan Indonesia sebagai sebuah kapal induk, maka manuver Rizal Ramli di sektor ril dan manuver Darmin Nasution di sektor finansial, dapat diibaratkan sebagai lambung kiri dan lambung kanan. Ketidakseinambungan pekerjaan di dua lambung ini akan membuat kapal oleng dan bukan tidak mungkin akan tenggelam begitu disapu gelombang besar, lalu ke dasar lautan. [***]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya