Berita

Hukum

Satgasus Diminta Tak Campur Adukan Urusan Hukum dan Politik

MINGGU, 16 AGUSTUS 2015 | 14:15 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

‎ Koalisi Masyarakat Pemantau Korupsi Indonesia (KM-PKI) meminta aparat penegak hukum jangan mencampur adukan antara persoalan hukum dan politik. Pasalnya, banyak keluhan dari berbagai daerah yang merasa persoalan hukum yang menjeratnya akibat pesanan dari lawan politik.

‎"Cara-cara ini merupakan pengekangan demokrasi dengan memperalat aparat penegak hukum," kata Ketua (KM-PKI) Nusirwan, kepada wartawan, Minggu (16/8).

Dia banyak mendapat laporan persoalan hukum yang ditangani pihak Kejaksaan Agung terutama Satgasus Kejagung dibawah pimpinan Sarjono Turin (Kasubdit Penyidikan)  terhadap seorang kepala daerah ternyata bermotivasi persaingan jabatan antara kepala daerah dan wakilnya. Sayangnya pihak Satuan Tugas Khusus Kejaksaan Agung (Satgasus Kejagung)  justru sering mengorek keterangan dari pihak yang berseteru.

Langkah seperti ini hanya akan menghasilkan pemeriksaan yang subyektif. Apalagi jika sampai ada upaya memaksakan pemeriksaan yang mengarahkan salah satu lawan yang bersetru jatuh, apalagi ada upaya kerjasama dengan wakil bupati karena ada hubungan kedekatan, ini sangat beresiko.

Kondisi seperti ini sangat tidak kondusif. Bahkan saat ini mulai ada kecurigaan tim Satgasus Kejagung yang turun ke daerah-daerah dimanfaatkan pihak-pihak yang berseteru. Padahal saat ini di Indonesia ada ratusan perseteruan antara Bupati dan Wakil Bupati  seperti di Sulawesi , Maluku, Jawa, dan Sumatera.

Dia mendapat laporan di Jambi  saja daerah yang terdiri dari  13 Kabupaten diantaranya, Batanghari, Bungo, Kerinci, Merangin, Muaro Jambi, Soralangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjsung Jabung Timur, Tebo ,Jambi, Sungai penuh banyak terjadi perseteruan. Tidak beberapa  oknum Wakil Bupati dicurigai ikut bermain dengan penyidik untuk menjatuhkan Bupati yang tengah menjabat seperti yang dialami  para Bupati  yang ada di Jambi di bawah kepemimpinan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus.

‎"Saya khawatir langkah yang dilakukan Tim Satgasus Kejagung  akan menjadi preseden buruk di kemudian hari. Pemeriksaan menjadi bias dan tidak objektif," tambah Nusirwan.

"Kalau kondisi seperti ini  terus terpelihara mana mungkin SKPD dapat menyerap anggaran  yang sampai sekarang tidak sampai 20%  akibat sering terjadinya pertikaian itu," katanya.

‎Pengamat politik, Prof Cipta Lesmana meminta agar kondisi perseteruan antara kepala daerah dan wakilnya jangan dijadikan pintu masuk proses penyelidikan, karena unsur subyektifnya lebih kental. Sudah sewajarnya pihak Kejagung mencari terobosan yang akurat jangan sampai karena ada unsur pribadi dan subyektif sehingga penyelidikan menjadi tidak profesional.

‎Banyaknya para Bupati  yang ditahan tidak terlepas persaingan dengan wakilnya.  Seharusnya mereka kompak demi kepentingan rakyat. Kalau antar mereka terjadi perkelahian masyarakat juga yang akan menderita.

‎Kasus perseteruan antara Bupati dan wakil hampir terjadi dimana-mana, seprti kasus Bupati Garut, Aceh, Tebo, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia menjadi bukti bahwa kondisi itu sangat rawan, apalagi mendekati Pilkada serentak.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Widyo Pramono, Jaksa Agung Muda Pidana khusus (Jampidsus) menanggapi persoalan perseteruan itu menegaskan pihaknya akan mengevaluasi kinerja Satuan Tugas Khusus Kejaksaan Agung  (Satgasus Kejagung). Hal ini mengingat pentingnya tugas mereka dalam menyelesaikan perkara korusi dimana penanganannya harus fokus dan tidak ada pesanan tertentu.

‎Diakui Satgasus tidak hanya menangani kasus yang terjadi pada 2015 saja, namun juga memeriksa kasus yang terjadi di tahun sebelumnya yang cenderung mangkrak. Dari 102 penyelidikan kasus dugaan tindak pidana korupsi di tahun 2014, 88 di antaranya berhasil ditingkatkan ke tahap penyidikan.

‎"Untuk tunggakan 2014, 88 perkara ditingkatkan ke penyidikan dengan rincian pra penuntutan 56 perkara, penuntutan 26 perkara dan 2 proses persidangan serta yang telah diputus atau memiliki ketetapan hukum ada 4 perkara," ujarnya.[dem]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya