Berita

Target Penerimaan Pajak Terlalu Besar, Zulhas Imbau Presiden Tak Bebani Pengusaha

JUMAT, 14 AGUSTUS 2015 | 17:17 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Pemerintah menargetkan penerimaan negara dalam RAPBN tahun 2016 bisa mencapai angka Rp 1.848,1 triliun. Dengan rincian penerimaan pajak sebesar Rp 1565,8 triliun dan bukan pajak sebesar Rp 280,3 triliun.

Hal itu sebagaimana disampaikan dalam pidato Presiden Joko Widodo tentang RAPBN 2016 di hadapan anggota DPR RI di gedung DPR Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).

Menanggapi hal itu, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengatakan, target penerimaan negara dari pajak sebesar Rp 1.565,8 triliun, yang berarti naik 5,1 persen dari target APBNP tahun 2015 terlalu memberatkan para pengusaha. Pasalnya, saat ini pasar bisnis tengah mengalami kelesuan.


"Kami maklumi negara butuh dana. Tapi harus dengan cara yang bagus," ungkapnya.

Ketua umum PAN ini juga memperingatkan pemerintah agar target penerimaan bisa sejalan dengan kondisi realistis ekonomi bangsa saat ini. Di tengah kondisi ekonomi yang tak stabil ini, pemerintah harus memutar otak bagaimana cara memungut pajak dari perusahaan-perusahaan. Dengan kata lain, pemungutan pajak yang menjadi target penerimaan pajak tidak membebani para pengusaha.‎

"Usaha (memungut pajak) ini perlu perhatian di tengah pengurangan tenaga kerja, merosotnya nilai tambang. Bagaimana caranya agar kepada pembayar pajak berupa perusahaan yang terkena dampak krisis," jelasnya.

Pemerintah, lanjut Ketua Umum PAN ini juga harus memberikan insentif kepada dunia usaha yang sedang mengalami masa sulit seperti sekarang ini agar penerimaan negara dari pajak bisa dimaksimalkan.

"Penerimaan pajak harus diperluas, tapi tidak memaksa bagi yang sedang kesulitan. Kalau dipaksa ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga. Harus realistis," imbuh Zulkifli.

Terlepas dari hal itu, Zulhas mengimbau kepada pemerintah untuk fokus pada program-program yang mampu menyerap pengangguran. Termasuk program-program sosial yang real.

"Seperti raskin, kebijakan terhadap siswa miskin dan meningkatkan pendapatan rakyat," tandasnya. [sam]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya