Berita

Dunia

70 TAHUN KOREA

Kebijakan AS pada Korea Utara Dipenuhi Rasa Benci

MINGGU, 09 AGUSTUS 2015 | 23:16 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sejak Perang Dunia Kedua berakhir ditandai oleh kekalahan Jepang di teater Asia-Pasifik, Amerika Serikat sudah menganggap Republik Demokratik Rakyat Korea sebagai musuh, dan target yang harus dikuasai atau dihancurkan.

Amerika Serikat menolak mengakui eksistensi Korea Utara sebagai bangsa yang merdeka, dan memilih membentuk pemerintahan boneka di selatan Semenanjung Korea.

"Kebijakan Amerika Serikat yang dipenuhi kebencian terhadap RDRK memiliki akar yang dalam," tulis Kantor Berita Korea Utara KCNA dalam artikel yang mereka rilis baru-baru ini untuk menyambut peringatan 70 tahun Hari Pembebasan Korea yang jatuh pada tanggal 15 Agustus.


Jauh sebelum mempersoalkan nuklir Korea Utara, Amerika Serikat merancang kebijakan luar negeri yang dipenuhi rasa benci untuk memojokkan dan mengisolasi Korea Utara dari pergaulan dunia.

"Sebegitu bencinya pada Korea Utara, Amerika Serikat tidak pernah memanggil negara ini dengan nama resminya, apalagi ingin menjalin hubungan diplomatik."

Perang Korea yang berlangsung antara 1950 hingga 1953 berakhir setelah kedua pihak yang bertikai, RDRK dan PBB, menandatangani perjanjian genjatan senjata. Namun Amerika Serikat terus terus berusaha menjadikan Semenanjung Korea sebagai kawasan yang dipenuhi ketegangan dimana perang bisa saja terjadi kembali setiap saat.

Di bulan November 1953, hanya beberapa bulan setelah penandatanganan perjanjian gencatan senjata di bulan Juli 1953, Amerika Serikat mengubah Korea Selatan menjadi pangkalan militer dan memutus komunikasi kedua Korea. Amerika Serikat pun berusaha sekuat mungkin menciptakan persatuan Korea seperti yang mereka inginkan.

"Amerika Serikat telah mengerjakan sejumlah skenario untuk menginvasi RDRK," sambung KCNA lagi.

Termasuk dengan menjatuhkan sanksi ekonomi dan memblokade Korea Utara.

"Fakta sejarah memperlihatkan bahwa politik luar negeri AS yang dipenuhi kebencian terhadap RDRK bukan buah dari program nuklir RDRK. Melainkan, hal yang kedua (kepemilikan nuklir) adalah buah dari hal pertama (kebijakan luar negeri AS yang dipenuhi kebencian," demikian KCNA. [dem]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya