Momen pemilihan kepala daerah di Medan harus digunakan sebagai ajang untuk merefleksikan kembali arti penting Medan dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tidak dapat dipungkiri, Medan dan juga Sumatera Utara, kini tidak lagi menjadi barometer penting di level nasional. Sebaliknya, Medan menjadi kota yang menyimpan seribu satu masalah, mulai dari korupsi, kesenjangan pembangunan, ketidakteraturan, kekerasan dan sebagainya.
"Fenomena yang ada belakangan ini bertentangan dengan sejarah masa lalu Medan yang merupakan daerah pejuang dan perlawanan (terhadap kolonial). Tempat budaya masa lalu yang gemilang," ujar Steering Committee Alumni Ikatan Mahasiswa Muslim Asal Medan (Al Immam) Teuku Gandawan Xasir, dalam perbincangan dengan redaksi, di Jakarta, Jumat malam (7/8).
Kita ingin rakyat Medan Sumut mengembangkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada untuk mengembalikan Medan dan Sumut sebagai pusat kemajuan di luar Pulau Jawa,†katanya.
"Medan dan Sumut
must be better than Singapore," sambungnya membandingkan Medan dan Sumut dengan negeri tetangga yang tidak terlalu jauh dari kota Medan.
Al Immam akan menggelar Muktamar di Wisma Padepokan Volley Indonesia (Wispavo) di Jalan MH. Thamrin, Sentul City, hari Minggu nanti (9/8). Agenda Muktamar itu sendiri adalah memilih ketua umum dan perangkat Al Immam lainnya.
Dalam Muktamar itu sejumlah agenda yang berkaitan dengan perbaikan dan pembenahan tanah kelahiran anggota Al Immam akan dibahas.
[dem]