Berita

KImilsungia/net

Ada Udang di Balik Anggrek

SABTU, 01 AGUSTUS 2015 | 23:29 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

ANGGREK menjadi tools politik luar negeri Singapura dalam berhubungan dengan negara tetangga mereka, Indonesia.

Hari Rabu lalu Singapura memikat hati Ibu Negara Iriana Joko Widodo dengan menggunakan anggrek. Sebuah anggrek yang disebutkan varietas baru dari persilangan dua jenis Dendrobium, D. christabella dan D. haldis morterud, dinamai D. iriana jokowi.

Iriana bangga dan bahagia dengan penghormatan itu.


"Suatu kehormatan sekali ya, anggrek yang ada di Singapura diberi nama Iriana Joko Widodo," ujar Iriana seperti dikutip dari situs resmi Sekretariat Kabinet (Rabu, 29/7).

Sebelum Iriana Jokowi, di bulan Juni 2005 lalu, Ibu Negara Ani Yudhoyono lebih dahulu dipukau dengan anggrek. Singapura menganugerahkan D. susilo bambang yudhoyono ani untuknya.

Dendrobium ini hasil perkawinan D. pikul tuck soon dan D. adele william.

Di tahun 1974, lebih dari 41 tahun lalu, nama Tien Soeharto sudah lebih dahulu digunakan untuk sebuah Dendrobium Singapura hasil persilangan D. noor aishah dan D. schulleri.

Kisah anggrek untuk Ani Yudhoyono dan Tien Soeharto ini ditulis di halaman Facebook Susilo Bambang Yudhoyono.

Tidak ada penjelasan apakah Sinta Nuriyah saat menjadi Ibu Negara juga pernah mendapakatkan kehormatan yang sama.

Juga belum ada informasi apakah almarhumah Ainun Habibie juga sempat dijadikan nama anggrek di Singapura.

Kita masih mengingat, hubungan Indonesia dan Singapura sangat berbeda di dua masa pemerintahan itu. Ketika Habibie berkuasa (1998-1999), hubungan kedua negara tidak begitu baik. Habibie sempat menyebut Singapura sebagai little red dot, dan istilah ini dianggap publik Singapura sebagai istilah yang bermakna negatif dan mengecilkan.

Sementara di era Abdurrahman Wahid (1999-2001), hubungan Indonesia dan Singapura kembali membaik. Gus Dur memiliki hubungan baik dengan pemimpin dan kelompok intelektual di Singapura. Tak lama setelah dilantik sebagai Presiden RI, Gus Dur berkunjung ke Singapura untuk mencairkan ketegangan dengan negeri tetangga itu.

Dalam pertemuan dengan elit dan pengusaha Singapura, Gus Dur bahkan sempat mengatakan dirinya adalah keturunan Tionghoa bermarga Tan. Hal ini tentu menyenangkan hati elit dan masyarakat awam Singapura.

Gus Dur tumbang di tengah jalan (Juli 2001) digantikan wakilnya, Megawati Soekarnoputri, yang berkuasa hinga 2004. Hubungan Indonesia dan Singapura semakin erat pada masa ini. PT Indosat yang dengan susah payah dibesarkan pemerintahan Gus Dur misalnya, dilego ke Singapore Technologies Telemedia (STT) anak perusahaan Temasek Holding milik Singapura.

Tetapi sejauh ini tidak ditemukan informasi akurat apakah Megawati yang dikenal sebagai pecinta bunga dan tanaman juga pernah mendapatkan kehormatan dari pihak Singapura seperti yang didapatkan Iriana Jokowi.

Dari penelusuran di dunia maya ditemukan entry Dendrobium hybride Megawati x Schulleri. Tetapi tidak jelas apakah itu merujuk pada nama Megawati Soekarnoputri atau tidak. Juga tidak atau belum ditemukan informasi yang terkait erat dengan entry tersebut. Barangkali setelah ini akan muncul informasi tambahan untuk melengkapi.

Seberapa penting anggrek bagi Singapura? Jawabannya, penting sekali.

Singapura menjadikan anggrek sebagai bunga nasional dan kebanggaan nasional. Tidak berlebihan bila kita menilai Singapura punya obsesi kuat menjadi pusat anggrek dunia.

Tetapi sebenarnya, Indonesia lebih dahulu mengembangkan pusat penelitian anggrek. Bahkan jauh sebelum Singapura lahir. Bung Karno pun lebih dahulu menggunakan diplomasi anggrek dalam kebijakan umum luar negerinya, untuk memperlihatkan itikad baik persahabatan, juga sebagai sinyal ancaman untuk lawan.

Di era Bung Karno flora yang dijadikan sebagai alat dalam polugri bukan hanya anggrek. Berbagai jenis buah-buahan pun dikirimkan ke negeri-negeri sahabat.

Kisah yang paling terkenal mengenai anggrek Indonesia di era Bung Karno adalah varietas Dendrobium yang diberikan kepada Presiden Korea Utara Kim Il Sung pada tanggal 13 April 1964 di Kebun Raya Bogor.

Bung Karno yang meminta agar bunga anggrek itu diberi nama Bunga Kimilsung, atau dalam bahasa Korea menjadi Kimilsungia dan dalam bahasa Tionghoa menjadi Kimilsunghwa.

Hari itu, dalam era Perang Dingin, Korea Utara adalah salah satu negara yang disegani di dunia. Dengan dukungan Uni Soviet, Korea Utara mampu menjadi bangsa yang besar di kawasan Asia Timur, kuat secara ekonomi dan berwibawa karena juga memiliki kekuatan militer yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Pada masa itu, Korea Selatan tidak ada apa-apanya dibandingkan Korea Utara. Republik Rakyat China pun masih meringkuk malu-malu di balik rimbun tirai bambu.

Bagaimana dengan Jepang? Setelah kalah dalam Perang Dunia Kedua, Jepang yang tadinya begitu agresif sejak paruh pertama abad ke-20 itu tertunduk lesu dan melupakan semua ambisinya menjadi raja di Asia.

Dalam konteks politik itulah Bung Karno memberikan anggrek Dendrobium kepada Kim Il Sung.

Bunga itu dibawa Kim Il Sung ke negaranya dan dikembangbiakan sehingga tumbuh subur dan menjadi salah satu bunga kebanggaan nasional mereka.

Setiap tanggal 15 April, hari lahir Kim Il Sung yang dikenal dengan nama Hari Matahari, pemerintah Korea Utara menggelar pameran Bunga Kimilsung secara besar-besaran. Di tengah kota Pyongyang dibangun sebuah gedung pamerankhusus untuk bunga itu dan bunga Kimjongil. Kalau Anda berada di Pyongyang pada Hari Matahari, kemungkinan sekali Anda akan dibawa untuk menyaksikan pameran Bunga Kimilsung.

Bunga Kimilsung membuat posisi Indonesia pada masa itu semakin disegani lawan dan dihormati kawan.

Anggrek ciptaan Tuhan yang cantik jelita. Di tangan pengambil kebijakan, ia menjadi alat untuk memperlihatkan itikad dan maksud, juga keinginan nasional sebuah negara.

Jadi, hati-hati kalau Anda menerima sekuntum anggrek.

Kalau boleh mengubah peribahasa, maka kini kita bisa menyebutnya: ada udang di balik anggrek. Bisa juga menjadi: musang berbulu anggrek. [***]

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

Transaksi Jakarta Melonjak Triliunan Selama Ramadan

Minggu, 22 Maret 2026 | 08:18

Pengiriman Pasukan ke Gaza Harus Lewat Mekanisme PBB

Minggu, 22 Maret 2026 | 07:51

Lapangan Banteng Disiapkan Jadi Lokasi Halalbihalal Warga Jakarta

Minggu, 22 Maret 2026 | 07:09

Ekspor Ikan RI dari Januari Hingga Lebaran 2026 Capai Rp16,7 Triliun

Minggu, 22 Maret 2026 | 06:51

Mengulas Kisah Leluhur Nabi Muhammad

Minggu, 22 Maret 2026 | 06:27

Gema Takbir Idulfitri Ubah Nuansa Angker Lawang Sewu

Minggu, 22 Maret 2026 | 05:59

TNI dan Gapoktan Songsong Asta Cita Lewat Panen Raya di Merauke

Minggu, 22 Maret 2026 | 05:45

Kerajaan Nusantara dan Cadangan Devisa Emas

Minggu, 22 Maret 2026 | 05:17

Kemnaker Perluas Akses Pelatihan Vokasi Nasional 2026

Minggu, 22 Maret 2026 | 04:58

Darurat Keselamatan Maritim

Minggu, 22 Maret 2026 | 04:28

Selengkapnya