Berita

adhie massardi/net

Bagaimana Mungkin Mempercayakan Nasib Indonesia pada Pemerintahan yang Bolak Balik Salah

MINGGU, 12 JULI 2015 | 10:53 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Krisis global yang ditandai oleh ambruknya perekonomian di Republik Rakyat China akan menjerumuskan Indonesia pada krisis yang kian dalam. Tanpa memformat ulang susunan kabinet, khususnya di sektor ekonomi, sulit membayangkan pemerintahan Jokowi-JK sanggup mengatasi imbas krisis global ini.

Pendapat ini disampaikan sekjen Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) Adhie M Massardi kepada kantor berita politik RMoL siang ini (12/7) di Jakarta.

"Bagaimana mungkin rakyat Indonesia bisa nyaman mempercayakan nasibnya di tangan pemerintahan Jokowi-JK dalam menghadapi krisis besar ini? Mungkinkah pemerintahan yang bikin Keppres saja bolak-balik salah, menyebut kota kelahiran proklamator bangsanya (Bung Karno) juga salah, dan tidak paham akronim lembaga negara sepenting BIN, sanggup menghadang badai sebesar ini?" kata Adhie.


Pada 1998, krisis ekonomi berdampak domino yang melanda Indonesia hanya terjadi di negara-negara kecil (Thailand, Malaysia dan Korea Selatan). Sedangkan negara-negara besar masih aman-aman saja, sehingga mudah mengulurkan bantuan. Makanya, kecuali di Indonesia, negara yang terdampak bisa lekas pulih.

"Sekarang krisis dimulai dari RRChina, menyusul Singapura, dan bakal melibas kawasan Asia lainnya. Sedang Eropa dan AS mustahil membantu karena mereka juga mengalami krisis ekonomi yang cukup rumit," tutur Adhie.

Indonesia akan menjadi negara terdampak paling serius karena pemerintahan Jokowi-JK (hanya) mengandalkan investasi dari China. Selain bantuan pembiayaan BUMN sebesar Rp 520 trilyun, pengembangan infrastruktur seperti puluhan pelabuhan (laut), dll, nasibnya digantungkan kepada China.

Makanya, krisis besar di China yang dipicu rontoknya sektor properti, akan mendorong nasib Indonesia memasuki lubang jarum. Untuk itu, perlu orang yang tenang, cerdas dan memiliki keberpihakan yang jelas kepada rakyat guna selamat dalam memasuki lubang jarum itu.”

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB.) ini sangat mencemaskan Jokowi-JK bakal memasang para ekonom dari kelompok garis neolib seperti Sri Mulyani, Darmin Nasution, mantan wapres Boediono, Chatib Basri, dll untuk mengisi posisi di sektor ekonomi.

"Saya ingin mengingatkan, kelompok neolib itu sangat lihay memanfaatkan situasi krisis untuk kepentingan mereka. Termasuk membobol uang negara. Ingat, dalam krisis 1998 mereka sukses membobol uang negara lebih dari Rp 600 trilyun lewat skandal BLBI, yang sampai sekarang tak jelas juntrungannya," sambung Adhie.

Dia mengingatkan, pada krisis global 2008, yang tak terlalu signifikan bagi Indonesia, mereka juga sukses menjebol uang rakyat sekurang-kurangnya Rp 6,7 triliun lewat rekayasa bailout Bank Century yang kasusnya juga tetap mengambang sampai sekarang.

"Saya yakin, apabila mereka ditarik lagi ke sentra kekuasaan melalui proses reshuffle, akan memanfaatkan situasi krisis global ini untuk kembali melakukan kejahatan kerah putih yang niscaya bakal makin sulit diendus, mengingat sistem hukum kita kian karut-marut," katanya.

"Tugas kita semua untuk terus mengawasi gerak-gerik mereka yang belakangan, terutama setelah KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dimandulkan, mulai bermunculan di pentas politik nasional," pungkas jubir presiden era Gus Dur ini. [dem]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Konflik Memanas di Yaman Selatan, RI Dukung Saudi Gelar Konferensi Damai

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:16

Kuasai 51,57 Persen Hak Suara, Danantara Tetap Jadi Pemegang Saham Mayoritas Telkom

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:03

Bank Raya Perkenalkan Kartu Digital Debit Visa di Momentum Tahun Baru 2026

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:50

Investor di Asia Hati-hati Sikapi Gejolak Politik Global

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:36

Rencana Prabowo Bangun 1.100 Kampung Nelayan Tahun 2026

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:28

Kebijakan Chromebook Era Nadiem Rawan Dikriminalisasi

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:27

Bukan Sejahtera, Rakyat Indonesia Bahagia karena Beriman!

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:27

Menlu AS akan Bertemu Pejabat Denmark Soal Akuisisi Greenland

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:21

Pertama di Indonesia, BRI Raih Sertifikasi TMMi Level 3

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:13

Swasembada Harus Berdampak pada Stabilitas Harga Pangan

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:11

Selengkapnya