Berita

as hikam/net

Hukum

Masa Depan KPK Ada di Tangan Pansel

RABU, 08 JULI 2015 | 05:20 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pakar politik senior Muhammad AS Hikam sependapat dengan argumen Direktur Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane, bahwa kehadiran Polisi dan Jaksa dalam jajaran pimpinan KPK yang akan datang merupakan sebuah langkah mundur bagi lembaga antirasuah tersebut.

Jelas AS Hikam, Neta benar ketika mengatakan bahwa '... KPK akan menjadi sangat aneh, jika awalnya terbentuk karena ketidakmampuan Polri dan kejaksaan, kok malah komisionernya justru diisi para polisi dan jaksa...'.

"Logikanya, KPK menjadi kuat, bermartabat dan disegani serta dihormati publik di Indonesia dan internasional, justru karena menjadi alternatif bagi Polri dan Kejaksaan yang selama rezim Orba, dan mungkin sampai sekarang, masih sangat lamban dalam bidang pemberantasan korupsi. Malah kalau dilihat track record elite Polri dan Kejaksaan, mereka beberapa kali terlibat dalam kasus-kasus tipikor yang levelnya kakap," ujar Menristek era Gus Dur ini seperti dikutip dari akun facebook, Rabu (8/7).


Tetapi sebenarnya, lanjut AS Hikam, bukan hanya itu yang mesti disoroti dalam proses pemilihan pimpinan KPK. Kalau nanti ternyata ada mantan politisi yang terang-terangan pernah berusaha memperlemah KPK, lalu malah jadi pimpinan, maka jelas KPK akan tamat riwayatnya sebagai lembaga antirasuah yang bermartabat dan kuat.

"KPK bisa saja masih ada dan dibiayai negara dengan dana besar, tetapi fungsinya akan berubah menjadi alat politik. Bisa jadi malah KPK yang dipimpin Polisi, Jaksa, dan mantan politisi akan bisa dipakai untuk mengancam dan menindas pihak-pihak yang dikategorikan sebagai lawan politik atau kepentingan mereka," paparnya.

Sampai saat ini, tambah AS Hikam, KPK masih terus menerus mengalami rongrongan dan pelemahan. Ia selalu mengatakan bahwa pelemahan itu bersifat terstruktur. sistematis, dan massif. Bukan saja dilakukan oleh berbagai pihak, tetapi juga dengan cara-cara yang sangat canggih, termasuk dengan memasukkan pihak-pihak yang selama ini sangat getol untuk mengebiri dan melumpuhkan KPK ke dalam struktur kepemimpinannya.

"Oleh sebab itu Pansel anggota dan pimpinan KPK kini dihadapkan dengan sebuah tugas yang sangat berat dan beresiko. Jika hasil seleksi mereka ternyata malah menjadikan mereka yang dikenal sangat getol melemahkan KPK, maka Pansel ini setidakya secara moral ikut bertanggungjawab juga dalam pelemahan KPK. Mereka akan tercatat dalam sejarah pemberantasan korupsi di negeri ini sebagai bagian dari upaya sistematis untuk menghancurkan amanat reformasi yang sangat penting bagi kehidupan bangsa dan negara, yaitu pemberantasan korupsi," demikian AS Hikam yang juga lulusan University of Hawaii at Manoa AS ini.

Sebelumnya panitia seleksi KPK mengumumkan telah terjaring 194 nama calon pimpinan KPK yang lolos seleksi tahap pertama dari total pendaftar sebanyak 611 orang. Berdasarkan latar belakang profesi, ada 38 pendaftar berlatar belakang pengacara, 26 pegawai swasta/BUMN, 27 dosen, 20 orang penegak hukum (polisi, jaksa, hakim), 6 dari KPK dan lain-lain. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya