Berita

ilustrasi/net

Darmin Nasution Tak Layak Jabat Menteri Ekonomi

SENIN, 06 JULI 2015 | 17:09 WIB | OLEH: SYA'RONI

KEDATANGAN Darmin Nasution ke Istana beberapa waktu lalu sontak mengagetkan banyak pihak. Spekulasi segera berkembang dan berhembuslah kabar bahwa Darmin Nasution akan didampuk menjadi Menteri Perekonomian menggantikan Sofyan Djalil yang sejak menjadi menteri rupiah terus nyungsep.

Jika kabar ini benar, ini adalah perjudian terbesar Presiden Jokowi. Sebagaimana diketahui, saat ini perekonomian Indonesia dibayang-bayangi krisis besar. Berbagai indikator ekonomi menunjukkan tren negatif. Bahkan sejak Presiden Jokowi naik tahta, rupiah terus melorot.

Sebenarnya sudah tepat jika Jokowi ingin merombak Tim Ekonomi. Tetapi Presiden harus mempertimbangkan masak-masak siapa figur yang akan ditunjuk. Salah menunjuk orang maka petaka bagi bangsa. Ini dibuktikkan Kesalahan Jokowi menunjuk Sofyan Djalil, menjadikan ekonomi semakin terpuruk. Dunia usaha tidak bergairah. Pertumbuhan ekonomi tidak mampu terangkat dan ujung-ujungnya gagal menyejahterakan rakyat.


Jika Jokowi ingin menunjuk Darmin Nasution, sebaiknya Jokowi melihat dulu rekam jejaknya. Memang, Darmin Nasution sudah malangi-melintang di jabatan publik, tepatnya jabatan yang berurusan dengan keuangan. Darmin Nasution pernah menjadi Dirjen Pajak, Komisioner LPS dan Gubernur Bank Indonesia.

Seabrek jabatan pernah diemban oleh Darmin Nasution. Namun, apakah ada prestasi hebat yang ditorehkan. Prestasi yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa. Jawabannya tidak ada. Kinerjanya biasa-biasa saja. Bahkan bisa dikatakan mengecewakan dan tersandung kasus hukum.

Nama Darmin Nasution pernah disebut dalam kasus mafia pajak yang menyeret nama Gayus Tambuhan. Bahkan Gayus dengan lantang dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan meminta supaya mantan Dirjen Pajak Darmin Nasution juga diseret menjadi terdakwa seperti dirinya. Memang hingga sekarang, Darmin Nasution secara hukum bersih dari pusaran kasus mafia pajak. Namun, setidaknya sebagai atasan Gayus Tambunan, Darmin Nasution gagal membersihkan Dirjen Pajak dari mafia.

Darmin Nasution juga disebut-sebut dalam kasus Century, setidaknya pernah dipanggil KPK sebagai saksi. Dimana saat itu Darmin Nasution menjabat sebagai anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) dan sekaligus Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sayang, skandal Century membeku di KPK dan sampai sekarang tidak jelas penyelesainnya.

Dan yang paling disayangkan adalah ketika Darmin Nasution menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia dalam kurun waktu 2010 sampai 2013. Dimana saat itu ekonomi sedang di level terbaiknya. Dana asing berduyung-duyung masuk karena ekonomi AS dan Eropa masih lesu. Sayang, momentum tersebut tidak bisa dimaksimalkan. China dan India mampu memanfaatkan momentum tersebut dan berhasil mematok pertumbuhan hingga 9 persen.

Sebagai Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution gagal memanfaatkan momentum. Padahal di belahan dunia manapun racikan kebijakan dari gubernur bank sentral merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Darmin Nasution bersikap seolah biasa saja. Buktinya, perbankan masih takut menyalurkan kredit kepada dunia usaha dan masih mematok bunga selangit. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga biasa saja hanya di kisaran 5 sampai 6 persen.

Dari sekilas rekam jejak di atas dapat digambarkan bahwa sosok Darmin Nasution tidak layak menjadi panglima Tim Ekonomi. Alih-alih mau mengangkat ekonomi bangsa, yang ada justru dikhawatirkan akan memperburuk pertumbuhan ekonomi. Di saat booming saja gagal memanfaatkan momentum, apalagi akan menghadapi bayang-bayang krisis, dikhawatirkan Darmin Nasution menjerumuskan ekonomi bangsa ke dalam kubangan penderitaan. Semoga tidak terjadi.[***]

Penulis adalah Sekjen HUMANIKA

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya