Berita

as hikam/net

Benarkan Tak Ada Pelicin dalam Rekrutmen Polri?

MINGGU, 05 JULI 2015 | 07:23 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Tantangan Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti (BH) kepada publik tentu sangat menarik. BH mengatakan bahwa rekruitmen menjadi anggota Polri bebas dari pungutan atau pelicin. Jumat (3/7) kemarin, BH mengungkapkan '... Kalau ada yang buktikan rekrutmen pakai duit, saya kasih satu juta'.

Pakar politik senior Muhammad AS Hikam mengungkapkan, sinyalemen ini tentu sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini menjadi 'rahasia umum' di masyarakat mengenai pembayaran ekstra alias uang pelicin bagi mereka yang menginginkan dirinya masuk menjadi anggota korps baju coklat tersebut. Common sense publik menmbandingkan, kalau kena tilang di jalan saja bisa 'damai' dengan para oknum Polantas, apalagi untuk masuk menjadi Polri.

Menurut AS Hikam, statemen BH malah bisa menjadi semacam karikatur, mengingatkan orang dengan tantangan mantan Ketum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum soal tindak pidana korupsi dulu.


"Orang yang iseng akan mengatakan, 'Lha kalau lapor ada suap puluhan juta untuk masuk jadi anggota Polri cuma dapat sejuta, kan masih untung banyak dong?' atau 'Kalau lapor dapat sejuta lalu malah berbalik dijadikan tersangka, bagaimana?' dan lain-lain," ujar jebolan  Universitas Hawaii AS ini seperti dikutip dari akun facebooknya.

"Saya kira statemen BH tidak akan efektif dalam rangka menghentikan praktik uang pelicin dalam rekrutmen Polri," ujar AS Hikam menambahkan.

Mantan Menristek era Presiden Gus Dur ini juga menilai, statemen BH tersebut tidak akan membuat publik percaya nahwa penyuapan tersebut tidak ada. Sebab, logika publik akan mengatakan. Pertama, mana mungkin ada orang menyuap lalu lapor, karena teknis dan prosedur penyuapan tersebut tentunya sudah sangat canggih. Yang lapor akan sangat beresiko malah menjadi terlapor, kecuali jika pelapor adalah aparat intelijen dan sejenisnya yang melakukan operasi klandestin; Kedua, kebiasaan oknumisasi juga akan menjadi alasan legal formal yang menolak tudingan ada uang pelicin untuk rekrutmen Polri. Jika ada, misalnya, maka yang akan dituding hanyalah oknum, bukan lembaga Polri sendiri.

"Walhasil, statemen Kapolri ini bukanlah sebuah cara komunikasi publik yang efektif untuk menaikkan citra lembaga yang dipimpinnya di mata publik. Paling-paling akan menjadi berita sebentar dan malah berpotensi menuai cibiran di ruang publik, terutama di media sosial. Yang mungkin lebih efektif adalah jika Kapolri menunjukkan bukti-bukti serius mengurangi praktik pelicin tersebut. Misalnya dengan membeberkan secara terbuka berapa jumlah kasus seperti itu terbongkar setiap tahun dan pada level mana saja, serta sanksi apa yang dijatuhkan kepada pihak yang melakukan. Publik akan lebih bisa diyakinkan dan efek penjeraan terhadap para pelaku akan efektif," demikian AS Hikam. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya