Berita

Yenny Sucipto/net

Yenny: Rini Soemarno Menyimpang dari Nawacita Keenam

JUMAT, 03 JULI 2015 | 09:44 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini tidak dikelola dengan prinsip Nawacita Jokowi-JK. Dimana seharusnya BUMN dikelola berdasarkan Nawacita keenam yaitu, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya. Dan ketujuh, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi dan Anggaran (FITRA) Yenny Sucipto dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Jumat (3/7).

Jelas Yenny, tulang punggung dari wujud implementasi Nawacita ke enam dan ketujuh adalah pada BUMN. Dimana seharusnya, BUMN mampu menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan dan meningkatkan kemandirian ekonomi serta bersaing dengan bangsa lainya. Namun faktanya, dalam catatan FITRA ada tiga hal yang bertentangan dengan implementasi Nawacita dalam pengelolaan BUMN oleh Menteri BUMN Rini Soemarno.


Pertama, oleh Menteri Rini, alih-alih membangun kemandirian, justru BUMN dijebak lagi dalam ketergantungan pada utang luar negeri dengan Cina sebesar Rp 650 triliun. Dengan bunga rata-rata 7 persen dalam jangka waktu pengembalian hingga 30 tahun maka hampir Rp 1.000 triliun untuk membayar hutang nantinya. Sehingga BUMN justru disetir oleh Cina, dan kemungkinan pengembalian hutang akan berupa saham yang dimiliki Cina.

"Hal ini merupakan upaya menjual BUMN secara halus kepada Cina oleh Menteri Rini," ujar Yenny.

Kedua, lalu apa gunanya Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN-P 2015 kepada BUMN senilai Rp 68 triliun. Disinyalir hingga saat ini, implementasi PMN tidak jelas, ada yang belum dicairkan, ada yang dicairkan namun tidak jelas arah penggunaannya, dan dugaan transaksional dari PNM tersebut tinggi karena alokasi dan penggunaan tidak dapat diukur dalam nilai asset ataupun peningkatan keuntungan BUMN yang mendapatkan subsidi Negara tersebut.

"Hal ini tentu saja berdampak pada tidak efektifnya uang Negara yang dicairkan untuk BUMN," paparnya.

Ketiga, pada rapat RDP dengan Komisi VI DPR beberapa waktu lalu hingga saat ini Menteri Rini belum bisa menyampaikan roadmap arah pembangunan dan revitalisasi BUMN sesuai dengan arahan Nawacita untuk mendorong ekonomi kerakyatan dan daya saing internasional.
"Roadmap ini penting, agar BUMN tidak selalu didesain merugi dalam laporan keuangan. Karena, jika demikian ini bagian dari upaya melanggengkan kegiatan sapi perah oleh politisi terhadap BUMN setiap tahun," sebut Yenny.

Alih-alih memperkuat BUMN agar menjadi perusahaan yang mampu mendorong pendapatan Negara non pajak, BUMN oleh Menteri Rini justru diduga dijadikan alat untuk bagi-bagi kursi kekuasaan dan kroninya. Dalam hal ini, kata Yenny, FITRA juga mendorong OJK untuk menyampaikan segera hasil tracking adanya unsur politisi dan titipan pengusaha dalam jabatan strategis di BUMN khususnya perbankan.

"Akhirnya, terkait dengan pengelolaan tata kelola BUMN yang tidak jelas dan justru menjadi semakin ketergantungan dengan hutang luar negeri, FITRA menghimbau Presiden Jokowi dan Wapres JK untuk mencari pengganti Menteri BUMN yang lebih professional dan visioner dalam mewujudkan implementasi Nawacita dan cita-cita bangsa Indonesia menjadi Negara yang kuat secara ekonomi, mandiri dan tidak ketergantungan pada Asing," demikian Yenny. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya