Berita

A. Iwan Dwi Laksono/net

Politik

Jokowi Diminta Tak Gunakan Isu-isu Sesat saat Merombak Kabinet

SELASA, 30 JUNI 2015 | 09:48 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Dalam mengevaluasi kebijakan dan kinerja kabinet terutama para menteri, Presiden Jokowi sepatutnya menggunakan parameter POAC (planning, organiziting, actuacting dan controlling). Bukan dengan menggunakan isu-isu yang tidak rasional dan menyesatkan.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Jaringan Kemandirian Nasional (JAMAN) A. Iwan Dwi Laksono menanggapi pernyataan Mendagri Tjahjo Kumolo bahwa ada menteri yang berani menghina Presiden Jokowi.

Kabar tersebut langsung disambut oleh Anggota DPR asal Fraksi PDIP Masinton Pasaribu yang membeberkan beberapa petunjuk menteri penghina Presiden dimaksud. Yakni dari menteri bidang ekonomi, bukan berasal dari parpol, dan berjenis kelamin perempuan. Namun tuduhan yang seolah-olah dialamatkan ke Menteri BUMN Rini Soemarno itu, dengan tegas dibantah Rini Soemarno.


Menurut Iwan Dwi Laksono, batasan-batasan dan parameter dalam menilai kebijakan itu sudah dimantapkan sejak awal Pemerintahan Jokowi JK, yaitu dengan Trisakti dan Nawacita.

"Apabila masuk atau keluar dari rel itu maka patut mendapatkan evaluasi merah, kuning atau hijau," kata Iwan Dwi Laksono, Selasa (30/1).

Dalam beberapa hal, lanjut dia, JAMAN memang mempertanyakan bahkan meminta klarifikasi terbuka khususnya kepada Menteri BUMN Rini Soemarno tentang Business Plan TELIN 1, 2 dan 3 dengan catatan bahwa lebih baik investasinya di Indonesia daripada di luar negeri (Singapura).

"Sekali lagi JAMAN menghimbau kepada semua pihak untuk mengedepankan rasionalitas," demikian Iwan Dwi Laksono. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya