Berita

foto:net

Tidak Ada WNI yang Menjadi Korban dalam Serangan Teroris di Kuwait, Tunis dan Perancis

MINGGU, 28 JUNI 2015 | 07:45 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pemerintah Indonesia mengecam terjadinya beberapa serangan teroris pada tanggal 26 Juni 2015 di tiga negara yang menyebabkan banyaknya korban sipil.

Serangan tersebut terjadi dalam bentuk serangan bom bunuh diri di Kuwait City pada saat shalat jumat yang menewaskan 13 orang, serangan teror di Hotel Riu Imperial Marhaba di Port El Kantaoui, Tunis yang hingga saat ini menewaskan 39 orang turis dan melukai puluhan lainnya, serta serangan teror di pabrik kimia "Air Product", berlokasi di Isere, sekitar 25 km selatan Lyon Perancis yang menewaskan 1 orang dan 2 lainnya luka-luka.

Ketiga serangan teror tersebut telah mengakibatkan total 51 orang korban meninggal dan beberapa luka-luka.


"Sesuai informasi yang diterima dari KBRI di tiga negara tersebut sampai saat ini belum ada laporan terkait WNI yang menjadi korban dalam ketiga peristiwa teror tersebut," bunyi siaran pers Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Sabtu (27/6).

Pemerintah Indonesia, lanjut siaran per situ, menyampaikan duka cita dan simpati mendalam kepada Pemerintah Kuwait, Tunis dan Perancis serta keluarga korban. Serangan teror di tiga negara pada hari yang sama ini kembali menunjukan bahwa ancaman teror tidak mengenal batas wilayah.

"Pemerintah Indonesia kembali menegaskan dukungannya kepada upaya bersama masyarakat internasional untuk memerangi berbagai kelompok gerakan radikal," tegas Kemlu RI.

Terhadap WNI yang berada di luar negeri, Pemerintah Indonesia kembali mengingatkan WNI untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan menjaga diri, menghidari tempat-tempat yang dapat menjadi target teror dan agar tidak terlibat dengan kelompok-kelompok radikal.

"Bagi WNI yang membutuhkan bantuan KBRI dapat mengkontak : KBRI Kuwait City kontak Sdr. Fahmi di nomor telpon +96599693436. KBRI Tunisia kontak Sdr Yubil Septian, di nomor telepon +21695992330 atau +21671860377. KBRI Paris dengan Sdr. Yosep Tutu +33625417845," bunyi siaran pers Kemlu RI itu. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya