Berita

Publika

Jangan Pedulikan 'FIFA'

RABU, 03 JUNI 2015 | 14:10 WIB

MAKSUD saya dengan judul tersebut, bukan tidak memperdulikan FIFA secara institusinya, tapi sanksi yang sudah diberikan oleh otoritas tertinggi sepakbola dunia tersebut kepada Indonesia. FIFA sudah memutuskan untuk menjatuhkan sanksi kepada Negara kita sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Dengan adanya sanksi tersebut, bisa dibilang sepakbola nasional kita terkena embargo. Praktis, Indonesia kehilangan hak keanggotaannya di FIFA, serta klub dan tim nasional kita tidak bisa mengikuti event internasional yang berada dibawah AFC dan FIFA. meskipun perkembangan terbaru, Sepp Blatter (Presiden FIFA) mundur dari jabatannya, sanksi terhadap Indonesia masih berlaku.

FIFA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia karena mereka menilai adanya intervensi dari pemerintah kepada PSSI. PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola nasional, seharusnya bekerja tanpa adanya intervensi pemerintah. Polemik antara pemerintah (dalam hal ini melalui Kemenpora) dengan PSSI yang dimulai pada akhir tahun 2014 kemarin, berlanjut tak berkesudahan sampai tenggat waktu dari FIFA tanggal 29 Mei kemarin. Karena hal tersebut, akhirnya FIFA rapat komite eksekutif FIFA tanggal 30 mei 2015 akhirnya menjatuhkan sanksi kepada Indonesia. Karena FIFA merupakan badan tertinggi sepakbola dunia, pastinya kita harus mengikuti statuta yang ada di lembaga tersebut. Lantas bagaimana kita bisa mengabaikan perihal sanksi tersebut?


Sebenarnya, ada hikmah yang bisa kita ambil dari adanya sanksi FIFA terhadap Indonesia. Baik PSSI maupun Kemenpora, seharusnya lebih fokus untuk harmonisasi hubungan antara dua lembaga tertinggi yang menangani olahraga dan sepakbola ini di negara ini. Jika dua-duanya masih tetap keras kepala tanpa mau duduk bareng berdiskusi, maka kemungkinan terburuk, bakal ada kisruh dualisme federasi lagi seperti sejarah kelam 2011 lalu. PSSI dan Kemenpora haruslah mau memikirkan nasib sepakbola, pesepakbola, dan penikmat sepakbola nasional. Tema utama yang digaungkan Kemenpora, yaitu 'reformasi tata kelola sepakbola Indonesia' merupakan patokan yang harus didahulukan.

PSSI harus sportif mau mengakui dan menerima jika dalam tubuh organisasinya ada oknum-oknum yang bermain” dengan mafia sepakbola dan menghambat perkembangan sepakbola nasional yang sehat dan sportif. Begitu juga Kemenpora, janganlah sampai upaya reformasi ini ditunggangi oleh oknum-oknum yang juga hanya ingin menguasai PSSI dengan motivasi 'kekuasaan'. Karena selain mengganti pengurus PSSI, dalam program reformasi tata kelola sepakbola, yang harus lebih diperhatikan lagi adalah reformasi pembinaan pemain dan pelatih sepakbola nasional.  

Jadi saya rasa semua insan sepakbola nasional harus legowo meneriman sanksi dari FIFA ini. Setelah itu, PSSI dan Kemenpora yang harus lebih peduli dengan nasib pemain, pelatih, klub, dan semua yang terlibat di sepakbola nasional. Kedua pihak harus segera diskusi bersama untuk mencari win-win solution dari masalah ini. Tentunya dengan patokan bahwa harus ada perbaikan dan reformasi di induk sepakbola nasional. Jadi kita tidak perlu menganggap bahwa sanksi dari FIFA seakan-akan sebagai kiamat sepakbola nasional, karena lebih tepat jika kita anggap hal tersebut adalah sebuah musibah bagi sepakbola Indonesia dan harus segera ditanggulangi bersama dengan benar. Karena yang penting bukanlah Sanksi dari FIFA, tapi adalah bagaimana perbaikan dan perkembangan sepakbola nasional. Salam satu jiwa Indonesia!

 

M Baihaqi Nabilunnuha
@haqeenabil99
Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.
HP : 081289794XXX
 

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Matador Pulangkan Belgia di Menit Akhir

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:14

Pengadaan Batu Bara Belum Tentu Penyebab Blackout Sumatera

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:05

Ijazah Asli Jokowi Dipastikan Sama seperti Unggahan Dian Sandi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:45

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Jampidsus Febrie Resmi Mundur

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:23

Antara VAR dan Tuduhan Argentina Anak Emas FIFA

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:02

Pemerintah Dukung Kortastipidkor Usut Tuntas Perkara Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:35

Pernyataan Febrie Dinilai Upaya Kendalikan Narasi di Tengah Deretan Fakta

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:33

Demo Copot Jampidsus Febrie

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:24

Akademisi University Swedia Teliti Penanggulangan Bencana PMI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:11

Selengkapnya