Berita

ilustrasi/net

Politik

Pertamina Harus Diperkuat Sebagai Perusahaan Minyak Negara

SABTU, 23 MEI 2015 | 08:26 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Lembaga yang berperan dengan pola kerjasama Government to Business (G to B) membuat negara tidak punya perlindungan. Selain merendahkan martabat negara dengan memposisikannya setara dengan pihak swasta, juga bisa terpaksa bertanggungjawab jika pemerintah daerah membuat ulah.

Hal ini dikatakan anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Nasdem, Kurtubi, terkait desakannya agar pemerintah membubarkan SKK Migas. Usai pembubaran Petral diumumkan, Kurtubi yakin langkah untuk memperkuat Pertamina sebagai National Oil Company (NOC) mesti dilanjutkan.

"Jadi nanti yang berkontrak itu adalah perusahaan dengan perusahaan (Business to Business). Bagi perusahaan minyak yang mau beroperasi di Indonesia, sudah cukup kontrak dengan perusahaan minyak negara. Pemerintah berada di atas kontrak karena memegang kedaulatan," katanya.


Kurtubi menekankan bahwa pengelola Migas seharusnya perusahaan negara, yaitu Pertamina. Diungkapkannya, berdirinya Pertamina adalah konsep asli Indonesia yang telah ditiru oleh lebih dari 50 negara dunia.

Kurtubi mencontohkan negara dengan pengelolaan Migas yang langsung ditangani oleh perusahaan negara, seperti Arab Saudi dijalankan Saudi Aramco, Aljazair oleh Sonatrach, Venezuela dengan PDVSA.

Malah, menurut Kurtubi, negara non OPEC seperti Malaysia, meniru sistem kelola Migas Indonesia dengan mempelajarinya pada awal 1970. Lebih dari itu, sambung Kurtubi, undang-undangnya dalam membentuk perusahaan minyak negara pun meniru mentah-mentah milik Indonesia. Hingga kini, National Oil Company (NOC) di Malaysia hanya satu, yakni Petronas, yang perkembangannya semakin maju.

"Malaysia berhasil mengikuti sistem tersebut, sedangkan Indonesia sendiri mencampakkan sistem itu, malah melakukan eksperimen baru dengan mendirikan BP Migas," katanya ngatkan pada lembaga negara yang digantikan SKK Migas itu. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya