Berita

Bisnis

Benarkah Rokok Penyebab Kematian?

RABU, 06 MEI 2015 | 11:58 WIB | LAPORAN:

Kampanye antirokok semakin masif dilakukan. Bahkan, gambar seram untuk menakut-nakuti perokok pun terus diotak-atik para pencetusnya sendiri. Padahal, organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) pernah melakukan penelitian dengan hasil: bahaya tembakau terhadap kesehatan tak seluruhnya benar.

Peneliti pertembakauan dari Indonesia Berdikari, Puthut EA, mengulas, pada 1980an silam, WHO pernah mencetuskan proyek MONICA (Monitoring of Trends and Determinants in Cardivascular Disease) di seluruh dunia dan guna menghubungkan faktor perubahan risiko dalam populasi periode sepuluh tahun (1980-1990).

Ada 32 sentra kolaborasi MONICA yang dibentuk di 21 negara. Ketika itu WHO meneliti responden sebanyak 10 juta orang pria dan wanita dengan rentang usia antara usia 25 hingga 64 tahun yang telah termonitor di seluruh dunia.


Hasilnya riset itu: tidak ada hubungan antara kecenderungan faktor risiko utama CVD (Cardiovascular Desease) seperti kolesterol serum darah, tekanan darah, dan konsumsi rokok.

"Juga tidak ada hubungan antara trend pengaruh (serangan fatal dan non-fatal) stroke dan penyakit jantung koroner," ujarnya.

Namun demikian, kampanye antirokok tetap berlanjut, bahkan disertai dengan berbagai klaim yang menyesatkan. Puthut menyebutkan, sejak dekade 80, media menyebarluaskan data bahwa setiap 11 detik satu orang meninggal karena rokok. Bahkan kondisi sekarang makin gawat, karena mereka menyebut setiap tiga detik satu orang meninggal karena rokok.

"Pertanyaannya, apakah klaim itu pernah dinyatakan dalam certificate of death bahwa kematian mereka memang karena rokok? Bagaimana membuktikan kematian tersebut," kritik Puthut.

Kata dia, angka yang disajikan atas dasar data epidemiologi. Padahal faktanya hubungan penyakit dan angka kematian tidak sebagai cermin data riset hidup sebenarnya. Tidak ada hubungan kuantitatif dan kualitatif yang nyata.

"Orang Jepang perokok berat. Setiap perokok di Jepang menghabis 3.023 batang per tahun, tetapi angka kematian akibat kanker paru justru terendah di dunia," terangnya.

Tudingan asap merokok merusak lingkungan juga dinilai ngawur. Dari hasil penelitian terhadap ratusan kafe yang dilengkapi extractor di atas kepala, setelah kafe tutup (sekitar durasi 4 jam) ternyata pengunjung non-perokok dapat paparan ekivalen merokok satu batang kalau dia tinggal di kafe selama 105 jam.

Kalau 70 juta batang rokok dibakar di Jakarta per hari, akan memberikantotal particulate mater (TPM) sebanyak 5 ton. Kalau 200 ribu kiloliter BBM dibakar sehari akan menebarkan 100 ton TPM, ditambah dari industri, pesawat terbang dan debu akan ada total 205 ton TPM per hari di Jakarta. Dengan demikian, kontribusi TPM rokok hanya 2,4 persen.

"Itulah bukti, kampanye bahaya merokok bukan sekadar masalah kesehatan. Tapi ini perang ekonomi dan manipulasi penelitian," pungkasnya.[wid]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DPR Paripurna Bahas RAPBN 2027 Hari Ini, Purbaya Dijadwalkan Hadir

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:21

Indonesia Hidupkan Kembali Pusat Pelatihan Pertanian di Gambia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:20

Emas Antam Terbang Rp15.000, Satu Gram Jadi Rp2,64 Juta

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:08

AS Desak SPBU Turunkan Harga Bensin Seiring Anjloknya Minyak Dunia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:00

Sanksi Tegas Harus Dijatuhkan ke Pihak yang Terlibat Kasus Helikopter KPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:47

Heddy Lugito Ungkap Peran Penting Media Massa bagi Eksistensi DKPP

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:40

IHSG Terbang 1,2 Persen, Rupiah Loyo Rp17.979 per Dolar AS

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:32

Purbaya Tegaskan Surat Utang Danantara Tak Buka Ruang TPPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:26

Penyaluran KPP Melesat, Pemerintah Tingkatkan Plafon Pembiayaan Jadi Rp50 Triliun

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:17

Prabowo Dijadwalkan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Lukashenko Pagi Ini

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:08

Selengkapnya