Berita

Anggota DPR Kritik Pelaksanaan Ujian Nasional Online

SELASA, 14 APRIL 2015 | 16:26 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Ujian Nasional untuk jenjang sekolah setingkat SMA dengan sistem online atau UN berbasis komputer (Computer Based Test/CBT) mendapat perhatian dari anggota DPR.

Kuswiyanto, Anggota DPR RI Komisi VIII, mengatakan bahwa ujian dengan sistem online merupakan sistem baru sehingga masih terdapat beberapa kendala. Meskipun demikian, ia menaruh harapan besar jika sistem ini berhasil dapat diterapkan bukan hanya pada sistem ujian tetapi juga pada proses pengajaran di seluruh sekolah di Indonesia.

"Saya membayangkan kalau sistem online ini berhasil maka merupakan satu lompatan besar bagi kemajuan dunia pendidikan. Ke depan, tidak hanya untuk ujian tapi bisa diterapkan dalam proses pembelajaran," ujar Kuswiyanto di sela-sela kunjungan ke salah satu Madrasah Aliyah di Bangil, untuk memantau pelaksanaan UN di wilayah Jawa Timur, Senin (13/4).


Kuswiyanto yang sangat concern dengan dunia pendidikan menambahkan bahwa dari hasil kunjungannya ke Jawa Timur khusus terkait UN Sistem Online masih menyisakan beberapa permasalahan.

"Kasus kemarin yang ditemui oleh tim Komisi VIII DPR, di Surabaya ada siswa yang tidak bisa tersambung ke sistem untuk memasukkan jawaban. Harus menunggu sampai jam 4 sore setelah semua teman-temannya pulang baru bisa. Ini bisa menyebabkan stres luar biasa bagi siswa tersebut," tambah politis PAN ini.

Menurutnya, kejadian seperti itu seharusnya bisa diprediksi sebelumnya dan disiapkan solusi.

"Harus ada plan B ketika siswa tidak bisa akses online, misal disiapkan dengan cara manual sehingga tidak usah menunggu berjam-jam yang dapat memicu stress siswa," sambung anggota DPR dari Daerah Pemilih Jawa Timur tersebut.

Sistem online, menurut Kuswiyanto, perlu juga didukung oleh peningkatan integritas dari semua pihak yang terlibat: pembuat soal, dinas pendidikan, kepala soal, pengetik soal, dan bahkan orang tua siswa harus juga memiliki integritas yang baik.

"Dengan sistem apapun jika tidak ada integritas tidak akan benar," tandasnya.

Saat ini masih ada stigma di kalangan siswa dan orang tua bahwa ujian sekolah tujuannya untuk lulus bukan untuk menguasai standar kompetensi yang ditentukan kurikulum. Sementara, tujuan dari ujian nasional tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana ujian tidak lagi sebagai penentu kelulusan. Hal ini, menurut Kuswiyanto, jika tidak diberikan pemahaman dan sosialisasi tentang arti penting kompetensi, maka para siswa dan orang tua tadi akan menganggap ujian nasional bukan lagi sesuatu yang penting, karena beranggapan pasti lulus.

Dari hasil pemantauan UN di Jawa Timur yang dilakukan Komisi VIII DPR, khususnya pada sekolah lanjutan atas keagamaan (Madrasah Aliyah) perlu ada beberapa perbaikan.

"Dari sisi teknologi harus disiapkan secara matang kesiapan komputer dan jaringan yang memadai. Sekarang masih baru dicobakan ke 556 sekolah. Bayangkan nanti kalau semua sekolah serentak dengan sistem online, mampu tidak jaringan servernya menampung loading data yang begitu besar”, jelas Kuswiyanto.

Tak kalah penting adalah ketersediaan sumber daya manusia. Dari sejak soal dibuat, diketik ke dalam sistem online, dikoneksikan melalui internet, guru, dan semua pihak harus siap.

Hal paling penting adalah perlu dipastikan sistem itu berjalan.

"Dengan sistem online seharusnya orang tua bisa langsung melihat hasilnya dalam waktu singkat. Kalau harus diolah manual lagi percuma," demikian Kuswiyanto. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya