Berita

ilustrasi/net

Hukum

Profesionalitas Polri Dalam Penegakan Hukum Dinilai Menurun

SELASA, 31 MARET 2015 | 22:25 WIB | LAPORAN:

. Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) prihatin dengan kejadian-kejadian yang belakangan menimpa Kepolisian. Kejadian itu membuat menurunnya profesionalitas polri dalam penegakan hukum ditanah air. Kredibilitas dan kepercayaan publik katanya juga cenderung tercoreng.

Kejadian pertama, jelas koordinator Kontras Haris Azhar, adalah brutalitas Polisi dalam penanganan anggota yang mengunakan narkoba dengan diikat disalah satu tiang dikantor Polsek Gambir, Jakarta Pusat.

"Jika anggotanya saja diperlakukan seperti itu lalu bagaimana dengan warga sipil biasa? Apakah cara tersebut diakui oleh hukum acara pidana di Indonesia?," tanya dia dalam keterangan pers, Selasa (31/3).


Yang kedua, fakta baru dari Rumah Sakit di Singapura. Disebutkan bahwa tidak adanya bekas sodomi pada salah satu siswa JIS yang diklaim menjadi korban sodomi oleh dua gurunya. Kini, kasusnya sudah sampai pengadilan.

Fakta itu semakin menambah daftar kejanggalan dalam kasus JIS, seperti adanya pekerja kebersihan yang meninggal dan disiksa tapi polisi tidak pernah melakukan pemeriksaan atas kejanggalan-kejanggalan tersebut.

"Situasi yang saat ini terjadi sungguh memperihatinkan. Agenda reformasi Polri penting segera dilakukan, terutama  pada bagian reserse," jelasnya.

Sementara itu, politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Bara Hasibun mengatakan, majelis hakim yang mengadili dua guru JIS mampu mengungkap kebenaran. Juga tidak mengabaikan fakta-fakta yang muncul dalam persidangan.

"Saya mengikuti  kasus JIS ini sejak awal yang melibatkan para pekerja kebersihan dari PT ISS. Belajar dari vonis terhadap para pekerja kebersihan yang tidar fair itu, saya berharap hakim dapat mengungkap kasus ini secara jelas dan gamblang. Bukti-bukti medis yang menunjukkan bahwa anak yang dikatakan korban ternyata tidak mengalami sodomi merupakan fakta penting yang tidak bisa diabaikan. Jangan sampai guru yang tidak bersalah jadi korban atas dasar prasangka," jelas Bara.

Bara juga merupakan salah satu ‎orangtua siswa di JIS Bara. Dia menilai kasus ini sangat aneh. Contohnya, besarnya dukungan dari orangtua siswa kepada dua guru dan pekerja kebersihan yang menggap mereka korban kriminalisasi.

"Orang tua murid tidak punya kepentingan dalam kasus ini. Jika ada sebersit keraguan atas tuduhan ini, pasti semua sudah akan ikut membela si Ibu yang mengaku jadi korban. Disini, yang terjadi malah sebaliknya. Begitu banyak orang tua murid yang mendukung Neil dan Ferdi. Bahkan sampai ke anak-anak mereka yang bukan murid Neil dan Ferdi juga turut memberikan dukungan dan tidak mempercayai kasus ini terjadi," demikian Bara.

Sejumlah fakta medis dalam kasus ini selalu menyebutkan bahwa sodomi tidak pernah terjadi. Yang terbaru adalah hasil laporan dari KK Women's and Children,s Hospital Singapore, yang  sudah dilengkapi dengan dokumen asli putusan High Court of Singapore pada 11 Februari 2015. Dalam laporannya pihak RS menyebutkan bahwa kondisi anus AL normal dan tidak menunjukkan ciri-ciri sebagai korban sodomi.  

Fakta medis berikutnya dari keterangan Dr Lutfi dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) di persidangan yang dihadirkan sebagai ahli.  Menurut Dr Lufti, MAK atau anak pertama yang mengaku menjadi korban sodomi tidak pernah mengidap penyakit herpes. Laporan adanya nanah yang ada di anus MAK bukan disebabkan oleh virus melainkan diduga bakteri.

"Hakim harus berani untuk memutuskan perkara berdasarkan bukti-bukti yang dipresentasikan di pengadilan. Sangat jelas bukti-bukti itu sangat lemah dan justru membuktikan para terdakwa tidak bersalah," demikian Bara. [sam]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Marak OTT Kepala Daerah, PKB Minta Evaluasi Desain Pilkada

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:25

Program Digitalisasi Pembelajaran Jangkau 288.865 Sekolah

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:20

8 Dekade BNI Tumbuh Bersama Indonesia dalam Semangat Swadharma Bhakti Nagara

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:00

10 Biksu Thailand Tewas Tertabrak Pikap yang Dikemudikan Bocah 11 Tahun

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:47

Kemandirian Energi, Masa Depan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:42

UMiMAX Pertamina Bantu Masyarakat Rentan Kembangkan Usaha

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:30

Lewat X-ray, Bea Cukai Bongkar Penyelundupan 3,37 Ton Narkotika

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:24

13 Negara Pastikan Tempat di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Aktivis Tibet Tewas Bakar Diri di Dekat Markas PBB New York

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Bupati Langkat Syah Afandin Digiring ke Gedung Merah Putih KPK

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:11

Selengkapnya