Berita

gede sandra/net

Bisnis

Sejak Awal, Penunjukkan Sofyan Djalil adalah Kesalahan

JUMAT, 20 MARET 2015 | 12:13 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Sorotan dan kritik tajam dari para analis ekonomi mulai menghujani tim ekonomi Pemerintahan Joko Widodo, yang dipimpin oleh Sofyan Djalil selaku Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian.

Benang merah dari kritik para pengamat adalah lemahnya pemahaman makro ekonomi para menteri di tim ekonomi. Penunjukan Sofyan Djalil sebagai Menko pun lagi-lagi dipertanyakan.

"Menurut saya, sejak awal, penunjukkan terhadap Sofyan Djalil adalah kesalahan. Dapat dicek di berbagai media, sejak sebelum terbentuknya kabinet tahun lalu saya sudah berulang kali mengingatkan kepada Presiden Jokowi bahwa Sofyan Djalil tidak kompeten dalam bidang makro ekonomi," kata peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP), Gede Sandra, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (20/3).


Menurutnya, publik menjadi saksi atas situasi perekonomian nasional yang terus merosot di 5 bulan pertama pemerintahan Jokowi. Sementara, pernyataan-pernyataan yang keluar dari mulut para menteri ekonomi justru membuat publik semakin berang.

Contohnya, pekan lalu, rakyat dikejutkan dengan komentar kontroversial Menko Sofyan Djalil yang mengkambing-hitamkan kecilnya remitansi (kiriman uang dari WNI yang bekerja di luar negeri) dari TKI sebagai penyebab melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS.

Juga komentar sejawatnya di tim ekonomi, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro yang menyatakan bahwa melemahnya kurs akan semakin menguntungkan APBN.

Kontan saja reaksi yang keras berdatangan dari para aktivis pejuang TKI, para anggota DPR, hingga mantan menteri perekonomian.

Publik juga dikejutkan dengan berita Presiden Jokowi tidak pernah menerima laporan perkembangan harga beras dari para bawahannya, yang seharusnya menjadi tugas Menko Perekonomian, yang mengkoordinasikan Menteri Perdagangan dan Kepala Bulog.

Gede menilai hal-hal tadi sebagai kelalaian yang "berbahaya", jika tidak ingin disebut sebagai suatu bentuk pembangkangan, dari bawahan kepada atasan.

"Kita paham benar bahwa Pak Sofyan adalah titipan dari JK. Apalagi belakangan beredar desas desus, bahwa ada upaya masif yang laten untuk mendeligitimasi Presiden Jokowi dan menaikkan JK sebagai Presiden kelak jika terjadi krisis ekonomi-politik. Namun harapan kita tentu semoga kedua hal ini tidak berhubungan," tutup Gede. [ald]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya