Berita

Politik

Komisi VII Segera Investigasi Biaya Haji

JUMAT, 27 FEBRUARI 2015 | 12:00 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Panitia Kerja (Panja) Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Komisi VIII DPR RI akan menginvestigasi kontrak akomodasi ibadah haji di berbagai sektor. Langkah ini diharapkan bisa menurunkan biaya ibadah haji minimal 200 dolar AS.  

Begitu kata Ketua Panja BPIH Komisi VIII DPR RI Sodik Mujahid dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi (Jumat, 27/2). Investigasi rencananya akan menyasar pada kontrak penerbangan pesawat, kontrak pemondokan, katering, transportasi darat di Arab Saudi, atribut dan sebagainya.

"Itu akan kita pelajari dan evaluasi, karena sebetulnya biaya ibadah haji bisa diturunkan. Panja BPIH akan menetapkan biaya haji harus lebih murah, lebih bermutu dan harapannya lebih cepat durasi hajinya," ujarnya.


Penurunan ibadah haji telah berulang kali diserukan Komisi VIII DPR RI berungkali. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Syarifuddin langsung merespon dengan melakukan langkah penurunan biaya haji sebesar 25 dolar AS.

"Sebetulnya itu usulan kita yang diklaim Kemenag, tapi sayangnya Kemenag hanya menurunkan 25 dolar AS saja. Kita melihat kalau penurunannya segitu itu hanya basa basi saja, pemerintah tidak serius menurunkan biaya ibadah haji," lanjut politisi Gerindra itu.

Pada tahap awal, lanjutnya, BPIH akan menelusuri kontrak kerja dengan maskapai penerbangan yang selama ini dilakukan dengan PT Garuda Indonesia. Menurutnya biaya penerbangan yang saat ini mencapai sekitar 2 ribu dolar AS bisa ditekan.

"Hitungan kami itu bisa ditekan sekitar 200 dolar AS, sehingga menjadi 1.800 dolar AS, kalau dikurskan selisih 200 dolar itu lumayan. Harapannya bisa turun sekitar minimal 250 dolar," katanya.

Begitu juga dengan kontrak pondokan, catering dan kontrak transportasi darat selama di sana. Itu akan ditelusuri dan dipelajari, terlebih selama ini kontrak kerja yang dilakukan untuk komponen itu dilakukan dengan pihak ketiga.

"Selama ini kontrak dengan pihak ketiga, ini dicurigai meninggikan  biaya. Ini  perlu di investigasi," tandasnya.[wid]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya