Berita

kim jong un/net

Dunia

Kebijakan Byeongjin Korut Berjalan Mulus, Prediksi AS dan Korsel Meleset

JUMAT, 20 FEBRUARI 2015 | 12:24 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Seorang peneliti senior isu Korea di Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat, Scott Snyder menilai bahwa kebijakan Korea Utara untuk mengejar pengembangan nuklir serta pembangunan ekonomi sejauh ini telah berjalan baik.

Snyder melihat indikasi itu dari situasi pangan dan perekonomian Korea Utara yang secara keseluruhan tampak tetap stabil meski ditekan oleh sanksi internasional.

Dengan merujuk pada data dari Organsisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Snyder memperkirakan bahwa produksi pangan Korea Utara mencapai 5.94 juta ton pada tahun 2014 lalu. Jumlah itu stail bahkan cenderung mengalami peningkatan bila dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapau 5.93 juta ton.


Sejauh ini, angka tersebut merupakan tingkat tertinggi yang berhasil dicapai Korea Utara sejak keruntuhan ekonomi negara tersebut pada pertengahan tahun 1990an.

Ia juga merujuk pada analisa dari ahli sektor pertanian Korea Utara yang menyebut bahwa peningkatan produksi pangan di negara itu disebabkan oleh langkah-langkah reformasi pertanian. Reformasi yang berpusat pada petani itu memungkinkan para petani di Korea Utara untuk menyimpan setidaknya sepertiga dari hasil panen mereka.

"Perkiraan FAO soal soal produksi pangan Korea Utara konsisten dengan laporan anekdot yang menyebut bahwa Korea Utara telah membuat perbaikan produktivitas dalam beberapa tahun terakhir dan bahwa ekonomi Korea Utara stabil jika tidak tumbuh perlahan," kata Snyder dalam sebuah artikel yang dikutip Yonhap (Kamis, 19/2).

"Hal ini juga berarti bahwa kebijakan dua arah Korea Utara untuk membangun ekonomi dan nuklir secara simultan menunjukkan beberapa hasil yang sederhana di sisi ekonomi," sambungnya.

Perlu diketahui, Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un telah meluncurkan kebijakan satu tujuan negara yang disebutnya sebagai "Byeongjin". Melalui kebijakan itu, Kim berjanji untuk membangun kembali ekonomi yang hampir mati sambil tetap maju dengan program nuklirnya.

Di satu sisi, Korea Selatan dan Amerika Serikat telah memandang sebelah mata kebijakan tersebut dan menilai bahwa Korea Utara tidak bisa membangun kembali ekonominya selama masih memegang ambisi nuklirnya.

"Kemajuan ekonomi Korea Utara jelas merupakan berita buruk bagi mereka yang mengharapkan bahwa peningkatan sanksi (internasional) bisa mendorong Korea Utara untuk membuat pilihan strategis yakni menyerahkan senjata nuklirnya," tandas Snyder. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Tiga Tahun UU TPKS: DPR Soroti Masalah Penegakan Hukum dan Temuan Kasus di Lapas

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08

Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset Tindak Pidana

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48

Utang Luar Negeri Indonesia Kompak Menurun

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34

Giliran Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono Diperiksa KPK di Kasus OTT Bupati Bekasi

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19

Muncul Tudingan Pandji Antek Asing di Balik Kegaduhan Mens Rea

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04

Emas Antam Naik Terus, Tembus Rp2,67 Juta per Gram!

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54

KPK Tak Segan Tetapkan Heri Sudarmanto Tersangka TPPU

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43

TAUD Dampingi Aktivis Lingkungan Laporkan Dugaan Teror ke Bareskrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28

Istana Ungkap Pertemuan Prabowo dan Ribuan Guru Besar Berlangsung Tertutup

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27

Update Bursa: BEI Gembok Saham Tiga Saham Ini Akibat Lonjakan Harga

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17

Selengkapnya