Berita

zulkifli hasan/net

PMN BUMN

Ketua MPR: Hati-hati Terjadi Skandal dalam Penyertaan Modal BUMN

SELASA, 17 FEBRUARI 2015 | 00:04 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Ada yang aneh pada besaran Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) senilai Rp 64,8 triliun, dalam APBN Perubahan 2015 yang diketok dalam rapat paripurna tiga hari lalu. Pasalnya, nilai PMN tersebut terlalu besar untuk disuntikan sebagai modal bagi BUMN.

Begitu sebagaimana diutarakan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan saat berbincang dengan wartawan dalam perjalanan dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menuju Jakarta. Ia menilai PMN BUMN ini berpotensi menimbulkan skandal baru.

"Saya khawatir ini jadi skandal. Saya kaget. Aneh. Hati-hati terjadi skandal," ujarnya (Senin, 16/2).


Penyertaan modal tersebut, lanjut Zulkifli, melonjak terlalu tinggi, mengingat pola kenaikan PMN tiap tahun tidak terlalu tinggi. Ia kemudian membanding dengan PMN untuk BUMN pada 2010 yang hanya Rp 6 triliun, kemudian 2011 naik menjadi Rp 9,3 triliun, lalu turun di 2012 Rp 8,5 triliun. Bahkan pada 2013 turun lagi menjadi Rp 4 triliun.

Pada 2014, PMN sebesar Rp 5,3 triliun. Tapi kemudian dalam APBN Perubahan diajukan PMN senilai Rp 84,8 triliun dan yang disetujui sebesar Rp 64,8 triliun.

"Masa tiba-tiba sekarang melonjak. Kenapa PMN untuk BUMN yang naik begitu dahsyat luar biasa. Rata-rata Rp 5 triliun, tiba-tiba awal pemerintahan baru, PMN melonjak. Ini saya khawatir menjadi skandal. Tolong semua pihak perhatikan. Tiba-tiba meroket. Nggak ada angin nggak ada hujan," tandas Zulkifli.

Lebih lanjut Zulhas, begitu ia disapa, menyayangkan disorientasi pemerintah yang semula memangkas subsidi bahan bakar minyak (BBM) beralasan anggarannya akan dialokasikan untuk program swasembada pangan dan pertanian, namun fakta yang terjadi  justru penyertaan modal ke BUMN yang ditingkatkan hingga jumlahnya fantastis.

"Saya menyoroti kenapa seperti itu terjadi. Kenapa tidak sesuai janji pemerintah mengurangi kemiskinan. Swasembada pangan. Kenapa tidak itu yang digelontorkan dana besar-besaran. Harusnya itu," kata dia.

"Aneh kan. 1000 persen naiknya. Anggaran PMN itu harusnya naiknya sedikit-sedikit. Tapi ini melonjak. Itukan anggaran kenaikan BBM. Harusnya dikembalikan ke yang miskin. Masa anggaran kenaikan BBM dikasih ke BUMN. Kan nggak match. Nggak make sense," tandas calon ketua umum PAN tersebut. [ysa]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya