Media-media mainstream yang didominasi oleh media Barat tidak menjadikan kasus pembunuhan tiga mahasiswa Muslim di dekat University of North Carolina sebagai sorotan utama pemberitaan. Hal ini pun memicu pertanyaan soal, di mana media-media mainstream ketika Muslim menjadi korban dalam sebuah kejadian?
Seorang asisten profesor di Departemen Komuniskasi di Universitas Alabama, Mohamad Elmasry pun mencoba mengelaborasi posisi media mainstream dalam pemberitaan terkait Muslim. Hal itu diutarakannya dalam sebuah opini yang dipublikasikan Al Jazeera (Rabu, 11/2).
"Mengingat apa yang kita ketahui mengenai penggambaran media barat tentang Islam dan Muslim di satu sisi dan efek media serta teori di sisi lain akan bodoh rasanya bila mengabaikan representasi media barat sebagai faktor penyebab potensial sentimen dan kejahatan anti-muslim," tulis Elmasry.
"Bahkan, ada kemungkinan bahwa sentimen dan kejahatan anti muslim, setidaknya sebagian, didorong oleh penggambaran media Barat terkait Islam dan Muslim yang cenderung satu sisi, sempit, sensasional dan bisa dibilang fanatik," sambungnya.
Ia menjelaskan bahwa banyak akademisi termasuk Edward Said, Elizabeth Poole, Kai Hafez, Milly Williamson, Karim Karim, Teun Van Dijk, Kimberly Powell, dan Dina Ibrahim yang melakukan kajian studi mengenai peliputan media barat terkait Islam dan Muslim.
Hasilnya menunjukkan bahwa Muslim sering digambarkan dalam media Barat dengan kekerasan, kemunduran, serta ancaman fundamentalis bagi peradaban Barat. Pemberitaan media-media Barat pun jarang menyoroti Islam kecuali untuk menujukkan kaitannya dengan kekerasan atau kekejaman. Muslim pun jarang disebutkan dalam konteks beita positif.
Dalam beberapa studi, jelas Elmasry, ditemukan bahwa umat Islam kerap digambarkan sebagai sebuah badan yang homogen dan tidak menerima keragaman atau pun berbedaan. Analisa lain pun menyiratkan bahwa Islam dicitrakan sebagai agama kekerasan dan rawan konflik.
"Dalam studi lain ditemukan adanya inkonsistensi peliputan konflik global dan regional yang diwarnai dengan kekerasan," katanya.
Ia menjabarkan, ketika orang-orang Kristen, Yahudi dan non-Muslim lainnya dibunuh oleh Muslim, identitas keislaman pelaku pun disoroti. Bahkan dibuat korelasi langsung antara ulah pelaku dengan Islam.
"Namun, ketika umat Islam dibunuh oleh orang-orang Yahudi, Kristen dan non-Muslim, identitas keagamaan pelaku kekerasan itu pun diabaikan dan tidak menjadi sorotan," tulis Elmasry.
Salah satu hal yang bisa dilihat, kata Elmasry, adalah pembentukan opini tentang kelompok militan Al-Qaeda atau ISIS yang kerap dicitrakan memiliki kaitan dengan agama Islam. Sejumlah pakar atau analis yang memberikan pendapat soal fenomena itu pun justru semakin menyudutkan posisi Islam, seolah kelompok militan semacam itu adalah representasi Islam secara keseluruhan.
Padahal pada kenyataanya, umat Muslim pun mengecam ulah Al Qaeda dan ISIS yang brutal. Kecaman dari pakar, analis, akademisi, tokoh, organisasi, dan bahkan pemerintahan Muslim tidak jarang diabaikan dan tidak menjadi sorotan sehingga tidak terpublikasi dengan baik.
[mel]