Indonesia adalah salah satu negara istimewa bagi rakyat Korea Utara. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Indonesia ada di lubuk hati bangsa Korea.
Hubungan baik kedua negara telah terbangun sejak masa Presiden Sukarno dan Presiden Kim Il Sung. Bahkan, adalah Presiden Sukarno yang memberikan anggrek khusus kepada Presiden Kim Il Sung dan meminta agar anggrek itu diberi nama Bunga Kimilsung.
Tetapi hari ini rakyat Korea Utara kecewa pada Indonesia karena memberi tempat pada pihak-pihak yang selama ini berupaya menistakan dan menyudutkan Korea Utara.
Demikian disampaikan Dutabesar Republik Demoratik Rakyat Korea, Ri Jong Ryul, dalam jumpa pers yang digelar di Kedubes Korut siang tadi (Selasa, 10/2) merujuk pada simposium yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Komisi HAM Korea Selatan di Hotel Sultan, Jakarta. Simposium itu membahas HAM Korut tanpa melibatkan pihak Korut.
Rakyat Korea menganggap Indonesia sebagai negara baik yang memiliki hubungan persahabatan tradisional dengan Korea Utara,†kata dia.
Dubes Ri mengatakan pihaknya sudah menyampaikan protes tertulis dan resmi kepada Presiden Joko Widodo dan Kementerian Luar Negeri. Korut juga mengirimkan surat protes itu ke pihak Interpol.
"Simposium ini adalah intervensi pada urusan dalam negeri Korea Utara. Negara kami melindung HAM setiap warganegara. Tetapi negara boneka Korea Selatan dan Amerika Serikat selalu memojokkan kami," ujarnya lagi.
Menurut Dubes Ri, sudah sewajarnya pihak Korea Utara dilibatkan. Tetapi Kedubes Korea Utara sama sekali tidak pernah menerima undangan.
"Kami seharusnya mengambil peran dalam simposium itu. Kami harus mengklarifikasi prinsip dan pandangan kami tentang HAM serta praktik perlindungan HAM di negara kami," demikian Dubes Ri.
[dem]