Berita

ilustrasi

Bisnis

Rakyat Bisa Tuntut Pemerintah Kalau Loloskan Buah Impor Beracun

SENIN, 02 FEBRUARI 2015 | 09:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Publik media sosial syok mendengar banyak buah impor berbakteri masuk ke pasar dalam negeri. Tweeps menilai, pemerintah telah lalai melindungi warga dari bahaya produk makanan beracun.

Di Twitter, account @ninuk_pambudy kecewa pemerintah membiarkan masuknya buah impor beracun ke dalam negeri.

"Parah kalau pemerintah saja tidak mampu melindungi warga dari buah beracun, sedih," gerutunya.


Account @bent24 miris mendengar banyak produk buah impor berbakteri beredar di pasar. Dia menilai, pemerintah lalai melindungi warga.

"Mulai dari baju sampai buah pun impor, dan parahnya berbakteri," katanya.

Account @Very_phu meminta pemerintah introspeksi diri. Dia berharap, tidak ada lagi produk pangan impor berbahaya masuk ke pasar dalam negeri.

"Ini bukan salah importir sepenuhnya, tapi salah aparat juga," kritiknya.

Account @liedavid mendesak pemerintah menyetop impor buah dari negara bermasalah.

"Jangan mentang-mentang dari Amerika, seenaknya mereka kirim apel busuk," katanya.

Account @princessary97 meminta pemerintah menindak tegas importir buah berbakteri.

"Rakyat terlanjur sudah jadi korban," cetusnya.

Tweeps @diahdtiwi bilang, maraknya peredaran buah beracun mencerminkan kondisi pemerintah.

"Ini cermin psikologis aparat pemerintah sudah tidak sehat. Mereka ngeracunin rakyat," ketusnya.

Tweeps @samrykhalili mengingatkan, pemerintah bisa digugat, apabila membiarkan masuknya produk buah berbahaya. "Rakyat bisa menuntut pertanggungjawaban pemerintah," katanya.

Tweeps @englaazizah mengimbau masyarakat hati-hati saat membeli buah impor.

"Jadilah pembeli cerdas. Utamakan buah lokal," sarannya.

Tweeps @Kintul79 berkalakar, bakteri di dalam buah impor sulit terurai, jika sudah masuk ke dalam tubuh manusia.

"Dicuci pakai pemutih pakaian pun bakterinya nggak akan hilang, haha," guraunya.

Di jejaring Kaskus, account koro.koro berkelakar, Presiden saat ini tidak punya waktu mengurusi peredaran buah impor beracun, karena sedang sibuk dengan kisruh KPKvs Polri.

"Boro-boro mikirin buah-buahan, mikirin diri sendiri saja susah, hehe," sindirnya.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berjanji melakukan pengetatan terhadap impor buah dan sayur (hortikultura) menyusul ditemukannya apel jenis Granny Smith dan Gala, yang diproduksi Bidart Bros California, yang mengandung bakteri Listeria Monocytogenes.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menjelaskan, pengetatan dilakukan agar produk-produk hortikultura tidak sembarangan bebas masuk ke Indonesia.

"Buah China juga katanya mengandung bahan kimia. Makanya, nanti harus lewat karantina semua," jelas Mendag.

Dia melanjutkan, pengetatan terhadap produk-produk impor ini juga dilakukan sebagai antisipasi berlanjutnya pasar tunggal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun ini. Produk-produk hortikultura yang masuk ke Indonesia hanya yang berkualitas baik.

"Pada 1 Januari atau awal 2016, dikhawatirkan negara lain akan memanfaatkan MEA untuk masuk ke pasar Indonesia. Makanya pasar kita harus dilindungi," terangnya.

Langkah pengamanan lain, lanjut Rachmat, Kementerian Perdagangan akan mewajibkan para importir untuk terdaftar di dalam asosiasi. Sehingga, proses pertanggungjawabannya akan lebih mudah.

"Para importir tersebut nanti mesti masuk asosiasi, sehingga ada pertanggungjawaban juga dari asosiasi. Ini juga salah satu cara dalam membenahi perizinan impor," jelasnya.

Di sisi lain, menurut Rachmat, kasus apel berbakteri ini bisa menjadi peluang bagi produk apel dalam negeri untuk menguasai pasar di Tanah Air.

"Ini adalah kesempatan bagi apel dalam negeri untuk kita angkat. Karena selama ini impor tinggi, sehingga apel dalam negeri kurang terangkat," tandasnya. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Jokowi Intervensi Prabowo soal Kabinet Jelang Pelantikan Presiden

Jumat, 03 Juli 2026 | 06:13

Sehina-hinanya, Serendah-rendahnya

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:48

Rezim Baru dan Kelahiran Organisasi Pemuda Paramiliter

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:41

Satu Polisi Tewas Dibacok saat Gerebek Bandar Sabu di Katingan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:18

Jokowi Kecewa Berat Roy Suryo-Dokter Tifa Tak Ditahan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:15

Jokowi Tidak Rela Kehilangan Kekuasaan

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:26

Spanyol Lolos ke 16 Besar setelah Gasak Austria 3-0

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:12

Raja Juli Antoni Dituntut Terbuka soal Kasus Bupati Kuansing

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:03

Flyover Latumenten Bisa Kurangi Kemacetan 40 Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:30

Sangat Aneh Kejaksaan Belum Periksa Jokowi

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:17

Selengkapnya