Berita

PT Pertam­ina (Persero)

Bisnis

Menteri Sudirman Tagih Proposal Pertamina Kelola Blok Mahakam

Total E&P Indonesie Punya Peluang Untuk Digandeng
SENIN, 02 FEBRUARI 2015 | 09:46 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah sudah memberi lampu hijau untuk PT Pertam­ina (Persero) mengelola Blok Mahakam. Namun, Pertamina masih punya masalah, terutama dari segi keuangan untuk secara penuh menguasai Blok Mahakam.

Kepala Unit Pengendalian Kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widhyawan Prawiraatmadja menginginkan Pertamina segera menyerahkan proposal menge­nai pengambilalihan pengelo­laan Blok Mahakam.

"Kami inginnya lebih cepat lebih baik. Pertamina harus bilang kepada kami, maunya apa," ujarnya.


Menurut dia, saat ini Pertam­ina sedang menganalisis data, menyiapkan rencana pengelo­laan, dan mempertimbangkan situasi harga minyak dunia yang sedang turun.

"Ini kan sesuatu yang besar dan serius. Pertamina tidak mungkin grusa-grusu dalam penyusunan proposalnya," timpalnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, pen­gelolaan Blok Mahakam setelah 2017 akan diteruskan ke Per­tamina. Pemerintah juga sudah memfasilitasi pertemuan antara Pertamina dan pengelola saat ini, PTTotal E&P Indonesie. Tujuan­nya, agar Pertamina bersiap seka­ligus transfer informasi.

Sudirman meminta Pertamina proaktif dan menyiapkan diri ter­masuk ketersediaan pendanaan. Pemerintah juga memberikan kesempatan pemda ikut serta.

Meski demikian, dia meminta pemda tidak menjadi alat bagi kepentingan swasta (fronting). "Jadi, harus punya kemampuan keuangan juga," ujarnya.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto men­gatakan, bulan depan pihaknya akan mengajukan proposal fi­nal terkait pengelolaan Blok Mahakam, Kalimantan Timur. Menurutnya, saat ini proposal tengah disiapkan. "Februari kami siap mengajukan proposal, kami tetap minta 100 persen (hak partisipasi)," tegasnya.

Terkait pembagian jatah atau hak partisipasi yang diminta pemda setempat, Pertamina akan berko­munikasi terkait porsi yang diminta. Bahkan, tidak menutup kemungki­nan Pertamina akan tetap meng­gandeng Total E&P Indonesia untuk keberlansungan operasi.

"Bisa saja dapat saham. Nanti kalau ada penugasan Pertamina di sana, kami bicara dengan pemda," terangnya.

Direktur Energy Watch Fer­dinand Hutahaean mengatakan, jika Pertamina ingin secara penuh menguasai Blok Mahakam maka harus mempunyai keuangan yang mumpuni. Sebab, financial saat ini menjadi kendala Pertamina menguasai Blok Mahakam.

Ferdinand mengakui Per­tamina lemah dalam segi keuan­gan karena antara rasio utang­nya sudah mencapai 55 persen daripada aset. Namun, hal itu bisa diperbantukan melalui sindikasi perbankan nasional. Peran sindikasi perbankan masih mampu untuk membiayai opera­sional Pertamina dalam men­gelola Blok Mahakam.

Menurutnya, jika Pertamina diberikan hak penuh untuk men­gelola Blok Mahakam, maka seluruh aset yang ada di Blok Mahakam juga ikut diambil alih seperti teknologi dan sumber daya manusia yang bekerja di Blok Mahakam kecuali tenaga kerja asing.

Menurut dia, secara teknologi Pertamina sangat mampu untuk mengelola Blok Mahakam. Se­bab di beberapa blok migas di luar negeri, Pertamina sanggup melakukan pengeboran migas.

Ferdinand juga meminta pe­merintah tak setengah-setengah menyerahkan pengelolaan Blok Mahakam untuk Pertamina. Jika pemerintah masih setengah-seten­gah, akan lebih baik jika pemer­intah menyerahkan kembali Blok Mahakam ke perusahaan asing.

Sebab, jika pengambilalihan Blok Mahakam berdasarkan sa­ham mayoritas 51 persen untuk Indonesia dan 49 persen untuk Total E&P, itu tidak ada gunanya untuk Indonesia. Jika penguasaan Blok Mahakam hanya 51 persen, itu membuktikan keinginan Pe­merintahan Jokowi menciptakan kedaulatan dan kemandirian en­ergi hanya janji belaka. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Jokowi Intervensi Prabowo soal Kabinet Jelang Pelantikan Presiden

Jumat, 03 Juli 2026 | 06:13

Sehina-hinanya, Serendah-rendahnya

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:48

Rezim Baru dan Kelahiran Organisasi Pemuda Paramiliter

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:41

Satu Polisi Tewas Dibacok saat Gerebek Bandar Sabu di Katingan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:18

Jokowi Kecewa Berat Roy Suryo-Dokter Tifa Tak Ditahan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:15

Jokowi Tidak Rela Kehilangan Kekuasaan

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:26

Spanyol Lolos ke 16 Besar setelah Gasak Austria 3-0

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:12

Raja Juli Antoni Dituntut Terbuka soal Kasus Bupati Kuansing

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:03

Flyover Latumenten Bisa Kurangi Kemacetan 40 Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:30

Sangat Aneh Kejaksaan Belum Periksa Jokowi

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:17

Selengkapnya