Berita

Elpiji 12 Kg

Bisnis

Agen Ogah Turunkan Harga Elpiji 12 Kg, Pemda Bisa Jatuhkan Sanksi

Pemerintah Mesti Awasi Distribusi Agar Isi Tabung Tak Dicuri
RABU, 28 JANUARI 2015 | 09:13 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Harga elpiji 12 kg sudah diturunkan kembali oleh pemerintah setelah beberapa waktu lalu sempat dinaikkan. Sayangnya, sudah dua pekan berlalu sejak diumumkan turun, harga di lapangan belum ikut turun.

Pemilik agen elpiji PT Cen­trum Niaga Bogor di Kawasan Citeureup, Bogor, Firdaus mengatakan, turunnya harga elpiji tidak membuat pihaknya untung. Sebaliknya, penurunan harga membuatnya buntung.

"Saya membeli elpiji 12 kg ini saat harganya masih Rp 136 ribu. Baru sebagian kecil terjual, pemerintah menurunkan harganya menjadi Rp 129 ribu," katanya saat ditemui Rakyat Merdeka, kemarin.


Sebelumnya, pemerintah me­naikkan harga jual gas elpiji 12 kg sebesar Rp 1.500 per kg atau dari harga Rp 115.000 per tabung menjadi Rp 133.000 per tabung. Namun, pemerintah kembali menurunkan harga jual gas elpiji 12 kg menjadi Rp 129.000 per tabung, atau turun Rp 4.000 per tabung pada Jumat (16/1).

Menurut Firdaus, stok elpiji 12 kg miliknya masih ada sekitar 200 tabung. Dia mengaku bakal rugi besar jika mengikuti harga baru yang ditetapkan pemerintah.

Sebagai agen dengan modal terbatas, dia berharap, pemerin­tah bisa membuat regulasi yang jelas terkait harga elpiji, sehingga tidak merugikan pedagang maupun konsumen.

Keluhan yang sama disam­paikan pemilik agen elpiji PT Bina Permata Buana, Khoirul Anwar, di daerah Beji, Depok, yang mengaku rugi sekitar Rp 5.000 per tabung karena menjual elpiji 12 kg dengan harga Rp 129.700 per tabung. Padahal, dia membeli elpiji saat harga masih Rp 134.000 per tabung.

"Waktu saya beli masih harga lama. Karena stoknya banyak, jadi belum sempat kejual semua udah turun lagi, rugi lah. Saya sih hanya bisa berharap dalam waktu dekat harganya naik lagi," ucapnya sambil terkekeh-kekeh.

Direktur Pusat Studi Kebi­jakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengatakan, turunnya harga elpiji 12 kg tidak dibarengi dengan pengawasan yang ketat. Pemerintah dan Pertamina mestinya mengawasi jalur dan pola distribusi elpiji agar harganya tidak dipermainkan seenaknya di tingkat konsumen.

"Dampak dari jalur dan mata rantai distribusi elpiji 12 kg sangat berpengaruh pada harga jual elpiji ke konsumen. Pertamina juga harus mengawasi kerja agen dan distributornya. Jangan sampai harga sudah turun, tapi di lapan­gan tetap mahal," tegasnya.

Selama ini, harga jual elpiji di tingkat pengecer sangat ber­variasi. Lebih parah lagi, isi dan takaran tabung elpiji 12 kg ser­ing berkurang di tengah jalan.

"Bisa karena ulah oknum nakal yang sengaja mencuri isi tabung atau karena lainnya. Dampak negatif itu harus diminimalisir pemerintah dan Pertamina," tegasnya.

Sofyano mengatakan, selama ini Pertamina mengklaim hanya mampu memantau mata ran­tai distribusi sampai ke agen dan distributor. Tapi di tingkat pengecer sulit dilakukan.

Kementerian Energi dan Sum­ber Daya Mineral akan men­gandalkan pemerintah daerah (Pemda) untuk mengawasi harga jual elpiji ukuran 12 kg di wilayah masing-masing. Pemda diminta memastikan harga elpiji 12 kg tetap Rp 129 ribu.

"Kami jaga sampai di agen jatuhnya sekian (Rp 129 ribu per tabung). Pemda nanti membantu jaga harga dari agen ke pelang­gan," kata Pelaksana Tugas Dirjen Migas IGN Wiratmaja.

Menurut dia, jika nanti ada agen yang menjual elpiji 12 kg lebih dari Rp 129 ribu, bentuk sanksinya akan diserahkan ke­pada Pemda setempat. Namun, Wiratmaja mengakui bahwa harga di beberapa derah bisa saja berbeda, tergantung pada kebijakan pemda setempat.

Vice President Corporate Com­munication PT Pertamina Ali Mundakir mengakui, turunnya harga elpiji 12 kg merugikan agen.

"Kita akui, dengan mekanisme penentuan harga ini, agen elpiji rugi. Kerugian ini ditanggung sendiri oleh agen," ujarnya.

Ali menjelaskan, kerugian itu dialami agen yang memiliki stok elpiji 12 kg sangat banyak.

"Tapi ini sudah risiko bisnis. Karena ketika harga elpiji 12 kg naik dari Rp 114.900 per tabung jadi Rp 134.700 per tabung dan punya stok banyak, mereka untung besar," tuturnya. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Jokowi Intervensi Prabowo soal Kabinet Jelang Pelantikan Presiden

Jumat, 03 Juli 2026 | 06:13

Sehina-hinanya, Serendah-rendahnya

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:48

Rezim Baru dan Kelahiran Organisasi Pemuda Paramiliter

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:41

Satu Polisi Tewas Dibacok saat Gerebek Bandar Sabu di Katingan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:18

Jokowi Kecewa Berat Roy Suryo-Dokter Tifa Tak Ditahan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:15

Jokowi Tidak Rela Kehilangan Kekuasaan

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:26

Spanyol Lolos ke 16 Besar setelah Gasak Austria 3-0

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:12

Raja Juli Antoni Dituntut Terbuka soal Kasus Bupati Kuansing

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:03

Flyover Latumenten Bisa Kurangi Kemacetan 40 Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:30

Sangat Aneh Kejaksaan Belum Periksa Jokowi

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:17

Selengkapnya