Berita

Max Sopacua

Wawancara

WAWANCARA

Max Sopacua: Ada Kesan, Penetapan Perppu Pilkada Cuma Nyenangin Demokrat

SABTU, 24 JANUARI 2015 | 10:55 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Partai Demokrat belum menentukan sikap, apakah melakukan gugatan ke Mahkamah Konsitusi (MK) bila DPR tetap melakukan revisi Undang-Undang Pilkada.

"Lihat nanti, apakah menggu­gat ke MK atau bagaimana. Kami belum memutuskan sikap," tegas Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Max Sopacua, kepa­da Rakyat Merdeka, di Jakarta, Kamis (22/1).

Menurut Max, Partai Demokrat merasa ‘ditelikung’ dalam pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (Perppu Pilkada).


Sebab, begitu disahkan, Perppu Pilkada yang dikeluar­kan SBY di akhir masa jabatan­nya sebagai Presiden itu menjadi Undang-Undang Pilkada, DPR mau melakukan perubahan.

"Sudah disahkan menjadi undang-undang, kok direvisi lagi. Ini kan aneh. Ini membuat kita bingung," ujarnya.

Max Sopacua berharap, jan­gan sampai 10 perbaikan dalam pilkada langsung itu menjadi ka­mu flase. Kalau Undang-Undang Pilkada itu nanti diubah seperti di awal, tentu tidak ada artinya perbaikan tersebut.

Berikut kutipan selengkap­nya:

Bukankah seharusnya Demokrat senang Perppu Pilkada diterima?
Pada prinsipnya merasa senang. Pak SBY menyampaikan penghar­gaan ketika DPR sudah mengetok palu di paripurna untuk menge­sahkan Perppu Pilkada yang dis­ampaikan oleh Pak SBY di akhir masa jabatannya.

Tapi kemudian ada keanehan, karena mau diperbaiki. Pertanyaannya, apa yang mau diper­baiki, kan sudah disahkan.

Keinginan Demokrat ba­gaimana?
Kalau itu dirasa perlu diper­baiki, ada catatan yang diberikan sebelum diketok palu. Katakanlah harus diperbaiki dulu. Intinya jangan sampai pendapat-pendapat dari fraksi yang lain diabaikan. Tapi ternyata seluruh fraksi menyetujui disahkan. Kalau sudah disahkan, jangan diubah lagi dong. Ini maksudnya apa.

Masak sebuah keputusan hu­kum oleh hakim misalnya, terus ada lagi putusan hakim. Mana ada kayak gitu. Ini sesuatu yang lucu dan aneh. Tidak ada di negara manapun di dunia ini seperti itu.

Demokrat merasa ini hanya nyenang-nyenangin saja?
Ada kesan seperti itu, ini sekadar nyenang-nyenangin Demokrat saja dengan disahkan­nya Perppu Pilkada. Tapi jangan sampai itu terjadi.

Saya kira semua harus konsis­ten, baik teman-teman dari KMP (Koalisi Merah Putih) maupun dari KIH (Koalisi Indonesia Hebat). Yang sudah konsisten Perppu itu disahkan, konsisten seterusnya dong agar rakyat tidak bingung. Kalau kayak gini kan rakyat jadi bingung.

Demokrat terlambat meno­lak dilakukan revisi?
Penolakan dari Demokrat su­dah dilakukan dari awal agar UU Pilkada yang baru disahkan itu tidak direvisi. Kenapa nggak direvisi sebelum Undang-Undang itu dis­ahkan saja. Ngapain diketok palu di paripurna kalau untuk direvisi lagi.

Apa sudah dilakukan komunikasi dengan PDI Perjuangan?
Belum. Saya kira perlu ada pembicaraan mengenai itu bila ingin direvisi. Harus ada pembi­caraan bersama. Pasal mana saja yang akan direvisi. Saya belum tahu pasal mana yg akan direvisi.

Perppu Pilkada dibuat secara tergesa-gesa, sehingga perlu direvisi, ini bagaimana?
Pak SBY saat menerbitkan Perppu Pilkada itu telah menda­patkan masukan dari para pakar. Saya kira tidak perlu lagi dire­visi, kalau dukung, ya dukung. Kalau dukung tapi mau revisi, ini ada apa. Ini kan Perppu untuk menguntungkan parpol juga, secara umum semua sudah me­nyatakan dukungan, lalu kenapa harus direvisi. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya