Berita

ilustrasi/net

Politik

Meutya Hafid: Pers Tidak Perlu Khawatir Diawasi Intelijen Pemerintah

KAMIS, 08 JANUARI 2015 | 18:12 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Insan pers tidak perlu khawatir akan ancaman pemberangusan kebebasan pers yang terindikasi dari pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka rapat kabinet di Kantor Kepresidenan, kemarin.

Anggota Komisi I DPR RI,  Meutya Hafid, mengatakan hal tersebut menanggapi kalimat dari Presiden yang mengatakan bahwa dalam periode tiga bulan terakhir, pemerintahannya mengerahkan mesin intelijen untuk memantau pemberitaan 343 media massa.

"Teman-teman media tidak perlu khawatir. Iya, saya menerima satu dua pertanyaan dari wartawan, jujur kaget. Namun teman-teman wartawan tidak perlu khawatir. Jika betul pernyataan Presiden yang mengerahkan mesin intelijen untuk mengawasi media yang saya baca di beberapa media online, itu tidak boleh mengganggu kepada kebebasan informasi," kata Meutya dalam keterangan pers yang diterima beberapa saat lalu (Kamis, 8/1).


Legislator yang dulunya berprofesi wartawan ini menambahkan, pengawasan terhadap media massa sebaiknya dan sepatutnya hanya untuk memastikan kebebasan pers yang baik, serta pers yang bertanggungjawab. Pengawasan bukan untuk membatasi gerak pers.

"Mulai masa sidang 12 Januari nanti, kami akan bertanya kepada Kepala BIN (badan intelijen negara), sejauh mana keterlibatan BIN dalam memantau manajemen berita di media massa," kata Meutya.

Kemarin, Presiden Jokowi menggelar Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Kepresidenan, Rabu (7/1). Dalam pertemuan yang dihadiri sejumlah Menteri Kabinet Kerja, Kapolri Jenderal Sutarman, dan Kepala BIN Marciano Norman, Jokowi sempat menyinggung tentang peran media dalam memberitakan kinerja Kabinet.

Dikabarkan, saat akan menyampaikan hasil analisis media massa oleh mesin intelijen kepada jajaran menterinya di ruang sidang kabinet, Jokowi tiba-tiba memberi isyarat agar pengeras suaranya dimatikan dan wartawan diminta keluar dari ruangan tempat rapat digelar.

"Semua tahu kita ini selalu dipotret, selalu diikuti, dan selalu dinilai media. Meskipun perlu saya sampaikan ekspos media belum tentu wakili kinerja pemerintahan," ujar Jokowi yang sempat terdengar para wartawan. Baca: Jokowi: Mesin Intelijen Pemerintah Menganalisa Pemberitaan Media [ald]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya