Berita

aburilzal bakrie/net

Politik

ARB Tidak Siap Disebut Sebagai Biang Perpecahan Golkar

KAMIS, 08 JANUARI 2015 | 17:31 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Perundingan damai dua kubu di Partai Golkar sedang berlangsung. Namun, hanya ada tiga faktor yang bisa mendorong islah Golkar dapat sukses berjalan.

Demikian disampaikan pengamat politik, Ray Rangkuti, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi (Kamis petang, 8/1).

Faktor pertama, kenyataannya Golkar telah menyapu banyak jabatan di Koalisi Merah Putih. Itu lebih dari cukup untuk menyatakan bulan madu dengan KMP berakhir, terutama yang terkait pembagian kekuasaan.


Faktor kedua, Aburizal Bakrie alias ARB tidak siap disebut sebagai tokoh yang membuat Golkar pecah. Di masa lalu, Golkar memang melahirkan banyak partai sempalan. Tapi perpecahan kepengurusan baru dalam waktu cukup lama dan melibatkan berbagai pihak baru terjadi di era ARB. Bagaimanapun, ARB tetap ingin dikenang sebagai tokoh pemersatu Golkar.

Faktor ketiga, secara pribadi posisi ARB juga makin tak kuat. Khususnya setelah pemerintah mengeluarkan talangan kompensasi bencana lumpur Lapindo Sidoarjo senilai Rp 780 miliar. Ada ketergantungan personal ARB terhadap pemerintah. Niatan Golkar bersikap oposisi ke pemerintah akan tereduksi oleh perjanjian tersebut.

Ditambahkan Ray, sekalipun terlihat bahwa negosiasi di antara dua kubu Golkar cukup alot, ia yakin itu hanya untuk memetakan tujuan-tujuan yang lebih bersifat personal. Titik temunya sudah dicapai, tinggal bagaimana elemen-elemen teknis yang mungkin saja menyingkirkan satu-dua orang atau lebih. Tetapi ini tidak terlalu menghalangi keduanya mencapai titik temu.

"Hal ini diperkuat oleh pertemuan Akbar Tanjung dengan Presiden Jokowi (kemarin). Artinya, sekarang, di dalam atau di luar pemerintah bukanlah bahan negosiasi yang penting bagi kedua kubu di dalam Golkar," ujarnya.

Namun, bagi kubu Agung Laksono, posisi Golkar terhadap pemerintah tetap relevan. Setidaknya ada kemungkinan mereka mengincar posisi-posisi strategis di pemerintahan, lewat reshuffle yang bisa terjadi di masa 1,5 tahun pemerintahan. [ald]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Peristiwa Anak Bunuh Diri di NTT Coreng Citra Indonesia

Selasa, 03 Februari 2026 | 05:38

SPPG Purwosari Bantah Kematian Siswi SMAN 2 Kudus Akibat MBG

Selasa, 03 Februari 2026 | 05:20

Perdagangan Lesu, IPC TPK Palembang Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:59

Masalah Haji yang Tak Kunjung Usai

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:42

Kilang Balongan Perkuat Keandalan dan Layanan Energi di Jawa Barat

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:21

Kemenhub: KPLP Garda Terdepan Ketertiban Perairan Indonesia

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:59

BMM dan Masjid Istiqlal Luncurkan Program Wakaf Al-Qur’an Isyarat

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:40

Siswa SD Bunuh Diri Akibat Pemerintah Gagal Jamin Keadilan Sosial

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:13

Menguak Selisih Kerugian Negara di Kasus Tata Kelola BBM

Selasa, 03 Februari 2026 | 02:59

Rencana Latihan AL Iran, China dan Rusia Banjir Dukungan Warganet RI

Selasa, 03 Februari 2026 | 02:40

Selengkapnya