Berita

Andi Eka Sakya

Wawancara

WAWANCARA

Andi Eka Sakya: Pilot Mesti Tahu Dinamika Cuaca...

SELASA, 06 JANUARI 2015 | 10:04 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Insiden AirAsia QZ-8501 yang jatuh di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, hendaknya tidak membuat calon penumpang takut menggunakan pesawat untuk bepergian.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya, mengimbau agar masyarakat tidak takut menggunakan moda pesawat terbang. Sebab, maskapai penerbangan sudah memiliki standar keselamatan.

Selain itu, lanjutnya, masyarakat pun tidak perlu takut untuk bepergian menggunakan pesawat terbang meski perkiraan cuaca selama Januari 2015 intensitas hujan meninggi dan kurang baik.


Pilot dan maskapai sudah memiliki standar keselamatan dan flight plan yang baik sebelum melakukan penerbangan,”  kata

Andi Eka Sakya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya;

Pesawat AirAsia ditemukan dengan berbagai kontroversi, termasuk laporan fisik cuaca yang tidak diambil sebelum penerbangan, ini bagaimana?
Pokoknya begini, sistem informasi cuaca yang diberikan kepada masyarakat hingga di penerbangan cukup baik dan sesuai dengan prosedur yang ada. Dinamika perubahan cuaca sangat cepat sekali dan tim BMKG selalu mengupdate informasi cuaca kepada masyarakat untuk setiap perubahan yang terjadi. Informasi cuaca tersebut mudah diakses oleh semua elemen masyarakat. Masalah laporan cuaca yang dirilis oleh BMKG sempat menimbulkan kontroversi terkait kecelakaan pesawat AirAsia QZ-8501. Pihak AirAsia diketahui baru mengambil dokumen laporan cuaca pada pukul 07.00 WIB atau setelah pesawat itu hilang kontak. Hal ini pula yang membuat Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, marah besar.

Apa yang sudah dilakukan BMKG kepada Menhub?
Saya sudah mengirim surat internal ke Menteri Perhubungan mengenai tindaklanjut arahan Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Memangnya apa arahan Presiden itu?
Presiden Jokowi meminta BMKG memperbaiki pemanfaatan infomasi cuaca, khususnya untuk penerbangan. Perintah ini keluar usai kasus AirAsia QZ 8501 yang hilang kontak dalam perjalanan Surabaya-Singapura, 28 Desember lalu. Karena itu, saya mengirim surat ke Menteri Perhubungan Jonan dengan maksud meminta arahan soal perintah sang Presiden tersebut.

Karena kasusnya (AirAsia QZ8501) masih berjalan, makanya kirim (surat) terbatas. Saya mohon arahan mengenai bagaimana pelayanan petugas kita di seluruh Tanah Air.

Soal isi surat yang menyebutkan AirAsia baru mengambil informasi cuaca pada pukul 07.00 WIB, padahal pesawat QZ8501 telah terbang beberapa jam sebelumnya. Informasi dalam log book di Juanda, Sidoarjo,  AirAsia ambil (data cuaca) jam 7. Apa (sebelumnya) dia ambil info dari Gapura, kita nggak tahu.

Lazimnya sebuah pesawat sebelum take off harus tahu dinamika cuaca dari tempat asal ke tujuan. Kita beri peta cuaca semacam flight document. Tapi mereka juga bisa dapat info dari website atau datang ke BMKG. Kita up date setiap 6 jam. Dalam peraturan Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Nomor 121 pakai forecasting BMKG.

Bagaimana update situasi prakiraan cuaca area pencarian AirAsia 5 Januari 2015?
Berlaku Jam 12.00-15.00 ya Pangkalan Bun berawan dan hujan sedang-lebat.

Kenapa pencarian berlangsung lama?
Karena memang cuaca di lokasi pencarian kurang bersahabat.

Di mana saja itu?
Pada sektor bagian barat secara umum berawan, namun beberapa lokasi menunjukkan adanya awan cumulonimbus  yang menimbulkan hujan dan angin kencang.

Lokasi awan cumulonimbus  relatif tersebar. Informasi terkini akan diinformasikan dengan data radar cuaca. Untuk area timur pencarian masih secara umum didominasi hujan. Adanya awan cumulonimbus  di lokasi tersebut dapat menimbulkan angin kencang dan menambah tinggi gelombang. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya