Berita

ilustrasi/net

Politik

Jokowi, Azwar Anas dan Ridwan Kamil Tak Bisa Dibendung

SENIN, 05 JANUARI 2015 | 15:46 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Regenerasi kepemimpinan nasional adalah keniscayaan dalam sistem politik, tidak terkecuali di Indonesia. Proses ini akan terjadi terus-menerus. Berjalan secara alamiah tanpa bisa dibendung siapa pun. Contohnya adalah kehadiran Joko Widodo.

Dalam riset lembaga kajian publik Founding Fathers House (FFH) periode November-Desember 2014, ditemukan 57,61 persen responden menilai regenerasi kepimpinan nasional itu sangat penting. 29,81 persen responden menilai penting. 2,11 persen responden menilai tidak penting. 10,36 persen responden tidak tahu.

Sedangkan di periode Januari-Febuari 2014, terkait hal yang sama, diketahui 52,05 persen responden menilai sangat penting. 35,32 persen responden menilai penting. 2,71 persen responden menilai tidak penting. 3,83 persen responden tidak tahu.


"Jika kita bandingkan dari waktu ke waktu bahwa publik tetap menilai isu tentang regenerasi kepimpinan nasional itu sangat penting dan penting," ujar Peneliti Senior Founding Fathers House (FFH), Dian Permata, dalam keterangan persnya, Senin (5/1).

Menurut Dian, masih tingginya respons publik tentang isu regenerasi kepimpinan nasional tidak lepas dari pelajaran Pilpres 2004, 2009, dan 2014. Tokoh-tokoh yang berada di garis edar capres-cawapres masih dikuasai muka lama alias itu-itu saja. Untungnya, ada sedikit warna berbeda pada Pilpres 2014 dengan hadirnya Joko Widodo (Jokowi).

Masih katanya, kehadiran Jokowi sebagai capres 2014 bak oase di peta politik nasional. Karena posisi Jokowi bukan sebagai Ketua Umum atau Ketua Dewan Pembina partai politik. Kehadirannya membedakan Pilpres 2014 dari semua Pilpres sebelumnya.

Karena itu, dilanjutkan jebolan University Sains Malaysia (USM) ini, tingginya respon publik terhadap isu regenerasi kepemimpinan nasional juga terjadi pada isu pemimpin alternatif masa akan datang. 77,33 persen responden menilai itu tersebut sangat penting. 5,04 persen responden menilai  penting. 3,11 persen responden menilai tidak penting. 1,19 persen responden menilai sangat tidak penting. 13,3 persen responden tidak tahu.

Menurut dia, tingginya respon publik tentang regenerasi kepimpinan nasional dan pemimpin alternatif tidak bisa dilepaskan dari faktor keengganan tokoh senior dalam memberikan ruang dan kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk muncul di permukaan.

"Rakyat sudah bosan dan etika sekat-sekat tidak bisa ditembus, maka lahirnya tokoh alternatif seperti Joko Widodo (presiden), Azwar Anas (bupati Banyuwangi), Ridwan Kamil (Walikota Bandung) sudah tidak bisa ditunda lagi," urainya. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya